This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Sportaninment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sportaninment. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Desember 2010

Gonzales-Irfan Pelengkap Keping Puzzle Timnas?


Striker timnas Indonesia Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim seolah menjadi keping puzzle yang sempat hilang. Kehadiran mereka membuat puzzle susunan pemain timnas mulai terasa lengkap.

Penampilan impresif Gonzales dan Irfan pada laga pembuka Grup A AFF Suzuki Cup 2010 banyak menuai pujian. Lini depan Merah Putih menjadi hidup setelah di beberapa event sebelumnya miskin produktivitas. Setidaknya timnas membuka rivalitas dengan surplus empat gol. Masuknya Gonzales dan Irfan disebut mulai memberikan efek positif.

El Loco, julukan Gonzales, yang berpaspor Uruguay sebelumnya menjalani pemutihan paspor berhasil mencetak satu gol pada menit ke-33. Sukses serupa milik Irfan yang mencetak gol kelima timnas pada saat injury time. Mantan Pelatih Timnas Benny Dollo mengungkapkan, pekerjaannya saat itu akan menjadi lebih mudah bila kedua pemain tersebut sudah bergabung. ”Waktu itu saya tidak memiliki pemain dengan karakter seperti mereka.


Gonzales punya naluri membunuh luar biasa, sedangkan Irfan memiliki kecepatan dan akurasi gaya Eropa. Gol-gol yang dibuat mereka itu yang terbaik pada laga tersebut. Kondisi timnas saat itu mungkin sama seperti sekarang kalau naturalisasi sudah diberlakukan,” ungkapnya, kemarin. Timnas di era kepelatihan Bendol– sapaannya–hanya menghasilkan trofi Piala Kemerdekaan 2008. Hanya, Merah Putih saat itu sedikit tertolong aksi walkout Libya yang sementara unggul 1-0.

Sisanya, Merah Putih gagal melaju ke final round Piala Asia 2011. Sebab, Firman Utina dkk hanya finis sebagai juru kunci Grup B Pra-Piala Asia 2011 dengan nilai tiga dari enam laga. Timnas juga tereliminasi di babak knockout Piala AFF 2008.”Kalau mereka ada di era saya, kami yakin bisa lebih baik. Tapi, saya senang karena beberapa permasalahan timnas terkait gol sementara bisa diatasi,” tandasnya.

Hanya, Bendol tetap mengingatkan, laga timnas kontra Malaysia belum menjadi ujian timnas sebenarnya. Sebab, Malaysia datang tidak full team dan meninggalkan delapan pilar. Laga timnas kontra Laos bisa menjadi parameter pertama kekuatan Merah Putih saat ini. Laos sebelumnya sudah memberikan kejutan dengan menahan imbang 2-2 kandidat juara Thailand pada laga pembuka. ”Sementara pembeda timnas era sekarang dengan sebelumnya adalah persaingan.

Masuknya mereka menghidupkan persaingan tim. Efektivitas kebijakan timnas saat ini akan terlihat setelah laga besok (hari ini),” tuturnya. Sementara itu, Pelatih Timnas Alfred Riedl mengatakan semua pemain menjadi elemen timnas yang penting. Bukan hanya El Loco dan Irfan. Striker Bambang ‘Bepe’ Pamungkas juga tetap vital di tim. ”Bagi saya, semua pemain sama. Bambang juga tetap menjadi bagian yang penting dan pemimpin tim ini,” paparnya. _ ma’ruf

Senin, 20 September 2010

Perbandingan LSI dengan LPI Siapa Unggul ?

Pendiri grup PSSI Tandingan di situs jejaring sosial, Ian Rajagukguk, membeberkan perbedaan antara Liga Super Indonesia (LSI) dengan Liga Primer Indonesia (LPI) yang sedianya siap digelar 26 Oktober mendatang.Menurut Ian, LPI memiliki keuntungan lebih banyak dibanding klub yang ikut LSI. Salah satunya, klub akan menerima pembagian keuntungan dana dari sponsor sebesar 100 persen. Berikut rincian perbedaan LSI dengan LPI yang dibeberkan Ian.

Liga Super Indonesia (LSI):
LSI di bawah payung PSSI.
Afiliasi regional: AFC
Afiliasi Internasional : FIFA

-Struktur Saham:
Yayasan: 5 persen
Klub: 0 persen
PSSI: 95 persen

- Pembagian Hak Siar TV (kompensasi siaran langsung): 0 persen

- Pembagian Sponsor Utama : 0 persen
Keuntungan : 100 persen untuk PSSI/PT Liga Indonesia

- Wasit : Lokal
- Sumber Dana : APBD
- Badan Yudisial : Komdis dan Komding PSSI
- Peserta : 18 klub
- Sponsor : PT. Djarum (Rp.41.5 milliar)
- Hadiah : Rp 1,5 milliar

Liga Primer Indonesia (LPI):
LPI di bawah payung PSSI
Afilliasi Regional: AFC
Afiliasi Internasional: FIFA

- Struktur Saham
Yayasan: 100 persen klub

- Pembagian Hak Siar TV
Klub: 100 persen

- Pembagian Sponsor Utama
Klub: 100 persen

- Keuntungan
Kuota Klub Peserta: 80 persen
Kuota Pembinaan: 20 persen

- Wasit: Asing (2 tahun)
- Sumber Dana: Investasi Rp 15-20 milliar per klub
- Badan Yudisial: Komdis dan Komding LPI
- Peserta: 18-20 klub
- Sponsor: Konsorsium investor
- Hadiah: 5 milliar.

LPI yang diklaim independen ini akan didukung oleh konsorsium yang dibentuk oleh sejumlah pengusaha nasional yang dibentuk oleh Arifin Panigoro, pengusaha yang merupakan pemilik Grup Medco.Pengelola LPI mengklaim bahwa kompetisi tersebut dibentuk bukan untuk menandingi kompetisi yang dibuat oleh PSSI dan Liga Indonesia. LPI bertujuan untuk memperbaiki kompetisi yang sudah ada.
"Apa yang kami lakukan ini sudah dilakukan Inggris pada 1992, Skotlandia pada 1998, dan Italia pada tahun ini. Di negeri-negeri itu, federasi sepak bola tetap dilibatkan dalam pengelolaan kompetisi," tutur Arya.
Perbedaan antara kompetisi yang digelar PSSI saat ini dengan LPI dan di negara-negara tadi, adalah kedudukan penyelenggara kompetisi yang sejajar dengan federasi sepak bola.
Perbedaan lainnya, LPI dan kompetisi di tiga negara tadi dimiliki oleh pesertanya sehingga seluruh keuntungan yang didapat dari kompetisi itu dikembalikan ke peserta. Sedangkan kompetisi di Indonesia pada saat ini dimiliki oleh PSSI. Klub tidak mendapatkan keuntungan finansial apa pun dengan mengikuti kompetisi tersebut.Selain itu, LPI juga dibentuk dengan tujuan agar klub-klub peserta bebas dari suntikan dana APBD. Nantinya, klub peserta akan diberi modal dengan besaran beda tergantung kebutuhan. Agar modal tidak diselewengkan, setiap klub bakal diaudit oleh auditor publik.Mengenai kemungkinan adanya tekanan kepada klub-klub tersebut nantinya, menurut Arya, PSSI dan PT Liga Indonesia tidak bisa semena-mena dan mencoret klub-klub yang akan berpartisipasi di LPI. PSSI bisa kena sanksi FIFA jika melakukan hal itu. "PSSI tidak bisa melarang klub berkompetisi.
LPI akan menggunakan format profesional layaknya kompetisi profesional, salah satunya dengan menyertakan klub sebagai pendiri liga. Kompetisi dibentuk, diurus dan dimainkan oleh klub. LPI mengadopsi model Liga Premier Inggris yang berdiri sendiri, terpisah dari Federasi Sepak Bola Inggris (FA). LPI nantinya akan merangsang klub peserta untuk mandiri dan bisa mengelola keuangannya sendiri. Semua klub peserta punya perwakilan dan menjadi pengurus. Sebelumnya, bertempat di kediamannya di Jalan Jenggala 1, Senopati, Jakarta, Jumat (17/9), pengusaha Arifin Panigoro menggagas terbentuknya Liga Primer Indonesia. Liga sepak bola ini merupakan kompetisi yang pembentukannya berdasarkan kesepakatan para klub.

Minggu, 19 September 2010

Si “Dua Wajah” Hudson IMB

Siapa yang tak kenal Hudson? Lajang dari kota Yogyakarta ini merupakan salah satu kontestan IMB (Indonesia Mencari Bakat) yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta setiap hari sabtu an minggu.
Tampilan Hudson di ajang mencari bakat tersebut begitu unik, disetiap tampilannya Hudson memerankan peran ganda yaitu sebagai laki-laki (yaitu dirinya sendir, Hudson) dan sebagai perempuan (yaitu jessica). Sehingga tak ayal tidak hanya wajah Hudson yang harus dirias separuh wanita dan separuh pria, akan tetapi pakaian yang dikenakannya pun dibuat khusus separuh wanita dan separuh pria.
Setiap kali tampil di IMB Hudson selalu menyanyikan lagu secara duet, emang kelihatannya aneh sih karena secara harfiah yang menyanyi adalah Hudson sendiri (jadi agak aneh jika dibilang sebagai duet), bersama dengan karakter vokalnya yang lain yang disebutnya sebagai Jessica, jadi ibaratnya dalam tubuh Hudson terdapat dua karakter yang hidup yaitu Hudson dan Jessica.
Menurut pengakuannya Hudson hanya iseng-iseng menampilkan tampilannya yang seperti ini, awalnya dia hanya ingin menampilkan sesuatu yang unik dan berbeda, terbesitlah ide untuk menampilkan karakter “two face”.
Beberapa lagu ditampilkan secara apik oleh Hudson, karakter lucu yang saya amati dia lakukan pada waktu dia memerankan oma dan opa Belanda yang sedang menyanyikan lagu “geef mij maar nasi goreng”, kesan glamor dan anggun pernah dia tampilkan saat menyanyikan lagu “All that Jazz”, dan saya sangat kagum pada waktu dia menyanyikan lagu-lagu milik Titik Puspa.
Malam ini Hudson akan tampil dalam babak final IMB, banyak juri yang memberi respon positif pada Hudson, dan bahkan tampilan Hudson sering kali menuai pujian dibanding dengan kritikan, dia dinilai sebagai peserta yang paling konsisten

Selasa, 10 Agustus 2010

Manajemen Waktu Berkendara Selama Puasa

Bulan Ramadhan telah datang. Menjadi kewajiban bagi kaum muslim untuk melakukan puasa selama sebulan penuh. Meski berpuasa, bukan berarti aktivitas harian terganggu atau menjadi malas malasan dlm melakukan suatu hal. Palinhg yang sedikit berbeda adalah bangun lebih awal guna makan sahur bareng keluarga ataupun sahabat. Setelah itu berkemas kemas untuk menuju tempat kerja dan kampus atau sekolahan.
Memang ada hal yg harus diperhatikan, yakni manajemen atau pengaturan waktu. Bagi bikers yg pintar mengatur waktu istirahatnya, bangun dan melakukan aktivitas lebih awal dipagi hari di bulan ramadhan bukan suatu masalah. Namun untuk yg istirahatnya kurang tentu saja akan menjadi masalah. Ketika kondisi tidak fit, ini sangat berbahaya untuk bepergian menggunakan motor.
Sebaiknya lakukan istirahat, dalam hal ini tidur lebih awal untuk mengantisipasi menurunnya kondisi badan. Ini dilakukan agar tubuh memiliki waktu yg cukup untuk pemulihan kondisi. Atur makan dan jgn terlalu bernafsu ketika datang waktu berbuka puasa. Selain itu, misalkan sobat bikers masih berada di jalan ataupun masih di kantor dan waktu berbuka suda datang, jgn memaksakan diri untuk segera sampai rumah. ini akan sangat berbahaya, mengingat kondisi tubuh saat menjelang buka puasa sangat rawan. kadar dehidrasi yang tinggi bisa membuat konsentrasi menjadi munurun, akibatnya reflek ketika berkendar juga akan terpengaruh.
Puasa lancar perjalanan selamat sampai tujuan ^___^

Senin, 26 Juli 2010

Polemik Tanding Ulang Persebaya yang tak kunjung reda

“Sepandai-pandainya Tupai melompat, suatu saat pasti akan jatuh juga”. Begitulah pepatah lawas yang tepat bagi Persebaya Surabaya, terkait dengan masalah kewajiban memainkan tanding ulang kontra Persik Kediri yang dihadapi saat ini.

Hal itu setelah PT Liga Indonesia (Liga) akhirnya menetapkan jadwal tanding ulang yang merupakan lanjutan pertandingan putaran kedua Superliga 2009/10, yang selama ini menjadi kontroversi dan sempat dilanda ketidakpastian waktu maupun tempat.

Oleh badan bentukan PSSI selaku pelaksana regulasi kompetisi sepakbola non amatir di tanah air, kedua tim penghuni papan bawah yang sedang berupaya lolos dari jeratan degradasi musim ini dijadwalkan melakoni laga tersebut di Stadion Brawijaya, Kediri, Kamis (5/8) mendatang.

Polemik berkepanjangan terhadap nasib kedua tim, terutama Persebaya, tampaknya akan segera berakhir. Tim berjuluk "Bajul Ijo" pun akan segera memastikan posisinya, apakah masih bisa tampil di kompetisi kasta tertinggi sepakbola nasional musim ini, atau turun kasta.

Jika melihat apa yang diputuskan komisi disiplin [Komdis] dan komisi banding [Komding], jelas kita akan mengerutkan dahi. Bagaimana tidak, dua komisi hukum PSSI itu silang pendapat terkait kasus laga yang gagal dimainkan akibat terkendala dengan perizinan.

Semula, Komdis memutuskan kemenangan walk over [WO] bagi Persebaya, karena Persik yang bertindak sebagai tuan rumah dipastikan gagal menggelar pertandingan. Hal yang sama diberikan kepada Persija Jakarta, yang juga gagal menggelar pertandingan kontra Persiwa Wamena, dengan kasus yang sama.

Tapi belakangan, Komding selaku komisi hukum tertinggi, menganulir putusan Komdis, dengan membatalkan kemenangan WO tersebut dan mewajibkan kedua tim untuk tetap memainkan laga tersebut. Padahal, dalam amar putusan Komdis sudah dijelaskan, jika putusan tersebut tidak bisa dibanding.

Namun PSSI lagi-lagi melakukan inkonsistensi dengan tetap mengetok palu, sehingga kedua tim yang sedang berjuang untuk lolos dari jeratan degradasi ini harus kembali memainkan laga itu. Aneh, tapi itulah sepak terjang otoritas sepakbola nasional dalam menjalankan roda organisasi yang terus diwarnai keputusan kontroversi.

Bagaimana dengan Persebaya, sesuai catatan,Saat menjuarai kompetisi Perserikatan pada 1988 misalnya, tim yang berdiri 18 April 1927 ini pernah memainkan pertandingan yang terkenal dengan istilah 'sepakbola gajah', karena mengalah kepada Persipura Jayapura 12-0. Hal ini dilakukan untuk menyingkirkan rival berat mereka kala itu PSIS Semarang. Taktik ini membawa hasil, dan Persebaya sukses menjadi juara.

Pada kompetisi Liga Indonesia 2002, Persebaya melakukan aksi mogok tanding saat menghadapi PKT Bontang yang berujung pada skorsing pengurangan nilai. Kejadian tersebut menjadi salah satu penyebab terdegradasinya Persebaya ke divisi I.

Tidak cukup sampai di situ, ulah tidak terpuji tim kebanggaan warga Kota Surabaya ini berlanjut tiga tahun kemudian, atau tepatnya pada musim kompetisi 2005 saat menggemparkan publik sepakbola nasional, setelah memutuskan untuk mundur dari babak delapan besar divisi utama.

Lagi-lagi, PSIS Semarang yang menjadi korban karena harus gigit jari bersama PSM, karena keduanya gagal untuk lolos ke babak final.

Akibat dari keputusan mundur tersebut membuat Persebaya diskors 16 bulan tidak boleh mengikuti kompetisi Liga Indonesia. Namun belakangan skorsing akhirnya direvisi menjadi hukuman degradasi ke Divisi I Liga Indonesia.

Dari rangkaian perjalanan Persebaya tersebut, siapakah yang harus disalahkan terkait dengan keputusan kontroversi PSSI yang mewajibkan mereka memainkan laga ulang kontra Persik? Tidak bijak memang jika kita menyalahkan satu pihak.

Sebab, carut marutnya sepakbola nasional yang berimbas pada merosotnya prestasi timnas, bukan pekerjaan bagi PSSI semata. Peran dari klub dan semua pelaku sepakbola nasional untuk melakukan perbaikan sangat besar, sekiranya ingin memperbaiki tatanan sepakbola di tanah air.

Maklum saja karena PSSI tidak akan ada artinya, jika saja tidak mendapat dukungan dari seluruh stakeholder sepakbola nasional.

PSSI..?? Persatuan Suap Seluruh Indonesia..??

Setelah beberapa hari puas akomentar ke media, Ketua Umum Persebaya, Saleh Ismail Mukadar akhirnya melontarkan argumennya mengenai keputusan PT Liga Indonesia (PTLI) menggelar tanding ulang lawan Persik Kediri. Menurut Saleh keputusan ini mencoreng nama baik Bajul Ijo.

"Bila kami berangkat, maka harga diri kami akan jatuh karena jelas akan dikerjai. Kalau tidak berangkat pasti dikenai sanksi," beber Saleh, Sabtu (24/7/2010).

Saleh sangat kecewa dengan keputusan yang aneh itu. Baginya tindakan PTLI semakin menunjukkan bagaimana wajah sepakbola Indonesia. Bagaimana hukum sepakbola bisa diputar balik semudah mengedipkan mata.

Bagaimana tidak, Komisi Disiplin (Komdis) sudah jelas bahwa keputusan kalah WO Persik tidak bisa dibanding, tapi pengurus Macan Outih membandel. Anehnya lagi, seperti memakan kotoran sendiri, Komisi Banding (Komding) justru menganulir keputusan itu.

"Kami telah mengeluarkan Rp 300 juta untuk pergi ke Yogyakarta, tapi tidak jelas apakah biaya yang sia-sia itu akan diganti atau tidak oleh PSSI," sambungnya.

Pria yang juga anggota Dewan Kehormatan KONI Jatim ini menambahkan. "Kalau saya pribadi cenderung untuk tidak berangkat. Sebab kompetisi ISL sudah selesai dua bulan lalu. Jika tetap digelar akan jadi perseden buruk bagi sepakbola kita," tutup Saleh.

Minggu, 25 Juli 2010

Meski kompetisi kasta tertinggi sepakbola Indonesia, Superliga sudah usai, namun masih menyisakan banyak perkara. Selain masalah tanding ulang Persik Kediri lawan Persebaya Surabaya, problem lainnya adalah gaji pemain yang belum terbayarkan oleh beberapa klub. Lantas siapa yang patut disorot dalam masalah ini.

Salah satu contoh kasusnya menimpa tim jawara musim 2009/2010, Arema Indonesia. Singo Edan, julukan Arema, masih bermasalah dengan gaji. Selama dua bulan, manajemen tim yang berbasis di Kota Apel ini belum melunasi kewajibannya ke pemain. Tak hanya masalah gaji, manajemen Ongis Nade juga telat memberikan bonus juara ke pemain.

Selain masalah gaji dan bonus yang belum terbayar, rencana untuk melakukan pemusatan latihan di Pulau Dewata, Bali, selama lima hari pun batal. Alasannya tetap sama, yakni uang. Akibat kondisi ini, aksi mogok latihan sempat dilakukan anak asuh Robert Albert. Bahkan, pelatih asal Belanda ini pernah meninggalkan tim dan kembali ke Malaysia untuk melepas penat.

Tak hanya Arema, tetangga mereka, Persebaya juga bernasib sama. Gara-gara gaji sebulan dan 25 persen kontrak yang belum dibayar manajemen, kondisi internal Bajul Ijo menurun drastis. Pemain sudah lesu darah untuk berlatih, bahkan pelatih kepala Rudy William Keeltjes dan asistennya, Ibnu Grahan jatuh sakit.

Selain Persebaya dan Arema, klub milik pengusaha Nirwan Bakrie, Pelita Jaya Karawang juga mengalami nasib serupa. Bahkan, kasus terburuk musim ini menimpa klub yang terdegradasi ke Divisi Satu, Persis Solo, lebih tragis. Pemain sampai harus membeli nasi bungkus untuk makan sehari-hari gara-gara gaji yang nunggak selama berbulan-bulan.

Menyimak masalah ini, siapa yang patut disalahkan. Apakah manajemen yang telat membayar gaji pemain, atau pemain yang seharusnya bisa faham dengan kondisi tim. Padahal Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid jauh hari mengklaim dan mengharuskan seluruh klub Superliga adalah klub profesional dan kompetisi Indonesia adalah salah satu yang terbaik di Asia.

Dalam menyikapi masalah ini, kita harus berhati-hati. Sebab, meski menyandang kata-kata profesional, tapi pada prinsipnya sepakbola kita masih amatir dalam transisi olahraga sosial menuju olahraga Industri. Hingga saat ini, supremasi masih dijadikan tolak ukur utama, padahal di Inggris atau Spanyol, titel juara sudah tidak menjadi target utama, melainkan bagaimana mencari keuntungan sebesar-besarnya.

Pertanyaannya, siapa yang patut disalahkan dalam masalah keuangan yang menyangkut kesejahteraan pemain khususnya. Dalam hal ini manajemen memang menjadi sorotan utama. Sebagai 'calon' klub profesional, setidaknya mereka harus belajar bagaimana menangani klub secara profesional. Masalah gaji tentu menjadi salah satu hal wajib dan harus diutamakan.

Tapi sekali lagi, tidak ada klub di Indonesia yang sempurna. Meski nafas sepakbola industri sudah dihembuskan, toh selama ini tidak ada satu pun yang memiliki pendapatan dari sepakbola, justru yang terjadi sebaliknya. Banyak klub yang merugi dan pengurus juga harus menyisihkan uangnya demi kesejahteraan timnya.

Di tanah air, banyak klub yang masih mengandalkan APBD. Hanya beberapa klub saja yang mampu mandiri, meski statusnya sementara. Contoh paling kongkrit menimpa mantan jawara Liga Indonesia, Petrokimia Gresik. Ketika PT Petrokimia sudah melepas klub ini dan berganti nama menjadi Gresik United, maka nasib pun terkatung-katung.

Apalagi Pemkab Gresik sendiri tidak terlalu mendukung keberadaan sepakbola di Kota Pudak. Meski mengucurkan dana APBD, namun nilainya sangat kecil dan pas-pasan. Akibatnya, atmosfer sepakbola di Gresik pun menurun drastis. Lihat saja, Ketika GU bertanding, bangku penonton tidak pernah penuh. Padahal ketika Petro berjaya, tiket pertandingan selalu 'sold out'.

Sedangkan pemain juga harus bersikap profesional. Sah-sah saja mereka menuntut pembayaran gaji tepat waktu, kerena memang itu haknya. Tapi ketika bertanding di lapangan, mereka harus allout. Mereka harus mempersembahkan permainan terbaik yang dimiliki. Jangan hanya menuntut hak tapi tidak memberikan kewajibannya dengan baik.

Tak hanya di lapangan, sikap profesional juga harus ditunjukkan di luar lapangan hijau. Sebagai atlet, mereka juga harus hidup dengan pola hidup atlet. Makan teratur, istirahat teratur, kalau perlu perbanyak latihan pribadi untuk meningkatkan potensi individu. Hal inilah yang masih belum dilakukan pesepakbola Indonesia.

Saya jadi ingat apa yang dikatakan Kim Jeffrey Kurniawan, salah satu gelandang berdarah Indo-Jerman asal klub FC Heidelsheim, salah satu dari pemain 'naturalisasi' yang diundang penyelenggera 'charity game' untuk Lucky Acub Zaenal dan Rusdi Bahalwan.

Ketika panitia pertandingan mengajak 'nongkrong' di rumah makan cepat saji, Bandara Soetta, Kim hanya minum air mineral. Ketika ditawarin makan pun, Kim dengan santun menolak, sekaligus menjelaskan, "Saya akan makan tiga jam lagi sesuai disiplin pemain bola, dan menu makanan juga harus sesuai standart atlet sepak bola," demikian kata Kim.

Nah, itulah yang dmaksud profesional, bisa menjaga, mengatur dan memanajemen diri layaknya pemain profesional. Tapi, semua itu mayoritas tidak dimiliki pemain Indonesia.

Menyikapi kasus ini, saya menghimbau agar pemain dan manajemen berbenah. Bagaimana bisa label profesional melekat jika sikap dan tindakan masih belum mencerminkan sisi profesional. Jadi, kalau Anda tanya apakah sepakbola Indonesia saat ini sudah profesional? Pasti akan saya jawab, Belum.

Jumat, 23 Juli 2010

Mr.Rudy..???? Apa selanjutnya..??

Kegagalan Persebaya menembus semifinal Piala Indonesia 2010 menimbulkan duka tersendiri. Apalagi, setelah Green Force -julukan Persebaya- dipastikan kalah dengan agregat 1-2 oleh Sriwijaya FC, Asisten Manajer Persebaya Ferdinand Patty tampak berang.

Mengenai permainan terakhir di Piala Indonesia (20/7), dia menyebutkan bahwa awak Persebaya tidak profesional. Namun, beberapa pihak tak menginginkan kondisi meruncing.

Manajer Persebaya I Gede Widiade berniat secepatnya menemui pemain dan pelatih Persebaya. Tapi, tujuannya bukan melakukan perubahan besar demi satu atau dua pertandingan tersisa. "Saya tidak mungkin memberikan keputusan material yang justru bersifat destruktif untuk tim," tegas dia tadi malam (21/7).

Ungkapan tersebut memang berbeda jauh dari pernyataan Ferdinand sebelumnya. Yaitu, menyarankan pelatih Rudy William Keltjes untuk mundur. Sebaliknya, Gede segera mendatangi tim dan meminta semua awak Persebaya untuk menutup segala kekurangan.

Dia pun menyatakan siap bekerja sama demi mengurai persoalan di internal Persebaya. "Saya sudah menerima laporan dari pemain, pelatih, dan asisten manajer. Mereka memberikan masukan sesuai dengan sudut pandang masing-masing berikut keterbatasannya. Dan, saat ini saya sedang berusaha melepaskan simpul-simpul persoalan yang terjadi," ungkap pria asal Surabaya tersebut.

Dia paham bahwa salah satu persoalan yang mendera Persebaya terkait dengan kesejahteraan pemain. Baik gaji maupun sisa kontrak yang belum terbayar. Karena itu, dia berupaya untuk memenuhi hak pemain. Salah satu contohnya, ketika dia dan Ferdinand rela patungan untuk menutup gaji Juni.

Di sisi lain, Gede berpendapat bahwa kurang etis jika persoalan kesejahteraan itu memengaruhi hasil pekerjaan. ''Dalam waktu dekat ini saya akan ke Surabaya untuk menemukan solusi yang tepat,'' lanjut dia.

Terpisah, Rudy tak terlalu bereaksi ketika menanggapi komentar Ferdinand yang menyudutkannya. Menurut dia, yang terpenting bukan persoalan mundur atau tidak, tapi menyelamatkan nasib Persebaya. "Meski begitu, saya akan tetap menerima keputusan manajemen," tegasnya.

Sementara itu, salah seorang pemain yang enggan disebutkan namanya menyatakan telah bermain maksimal di laga second leg melawan Sriwijaya tersebut. Kalaupun Persebaya gagal menang, dia mengakui bahwa hal itu tak lepas dari kekurangan timnya. ''Mungkin kurang tenang saja,'' jelasnya.

Daftar Olahrawan Terkaya

Skandal perselingkuhan yang menerpa Tiger Woods di akhir tahun membuatnya kehilangan beberapa sponsor. Akan tetapi pegolf nomor satu dunia itu masih merupakan olahragawan terkaya.

Dari daftar 50 atlet Amerika Serikat terkaya yang dirilis Sport Illustrated, Rabu (21/7/2010), Woods tercatat memiliki kekayaan sebesar 90,5 juta dolar AS atau sekitar Rp 820 miliar. Nilai itu adalah yang tertinggi dibanding atlet AS lainnya, dan ia melakukannya selama tujuh tahun berturut-turut.

Hanya saja kekayaan Woods saat ini masih di bawah rekornya sendiri di tahun 2008, ketika ia memiliki 127 juta dolar atau sekitar Rp 1,1 triliun. Saat perselingkuhannya terbongkar, beberapa sponsor meninggalkan dia seperti Gatorade, AT&T dan Accenture.

Pegolf lainnya, Phil Mickelson, berada di peringkat dua dengan total kekayaan 61,7 juta dolar. Ia lebih tajir satu juta dolar dari petinju Floyd Mayweather Jr. yang berada di urutan ketiga daftar tersebut.

Empat pemain NBA masuk 10 besar, yaitu LeBron James (4), Shaquille O'Neal (6), Koe Bryant (7), dan Dwyane Wade (10). Alex Rodriguez (5) dan Derek Jeter (9) mewakili bintang MLB di daftar top ten.

Sports Illustrated juga menghitung kekayataan olahragawan non-Amerika Serikat dan Roger Federer masih bertengger di urutan teratas, sama seperti tahun lalu. Petenis Swiss itu, yang saat ini ada di peringkat tiga ATP, memiliki kekayaan $61,768,110.

Daftar atlet AS terkaya versi Sport Illustrated (20 besar):

1. Tiger Woods, golf, $90,508,163
2. Phil Mickelson, golf, $61,660,757
3. Floyd Mayweather Jr., tinju, $60,250,000
4. LeBron James, tinju, $45,779,912
5 Alex Rodriguez, baseball, $37,000,000
6. Shaquille O'Neal, basket, $36,000,000
7Kobe Bryant, basket, $33,034,375
8. Derek Jeter, baseball, $31,000,000
9. Peyton Manning, american football, $30,800,000
10. Dwayne Wade, basket, $27,779,912
11. Matthew Stafford, american football, $27,650,000
12. Dwight Howard, basket, $27,202,590
13. CC Sabathia, baseball, $26,500,000
14. Eli Manning, american football, $26,500,000
15. Kevin Garnett, basket, $26,417,044
16. Dale Earnhardt Jr., auto racing, $26,097,190
17. Philip Rivers, american football, $25,850,000
18. Tim Duncan, basket, $25,683,218
19. Terrell Suggs, american football, $24,975,000
20. Albert Haynesworth, american football,  $24,750,000

Kamis, 22 Juli 2010

Kenangan Indonesia di World-Cup

Ternyata negeri Indonesia masuk dalam peringkat negara-negara yang pernah mengikuti gelaran World Cup. Setelah ngeliat data peringkat dan statistik di fifa.com eh ada nama negara ‘Indonesia’ diurutan 68 hehehe… Tapi masih lumayan ato bisa dibilang sangat buaguss ketimbang negara-negara lain yang “selevel” ma Indonesia, seperti negara Asean lain yang gak ada sama sekali di daftar. Jadi kalau pengamat bola iseng liat-liat negara mana sih yang peringkatnya di bawah…eh ada Indonesia yah promosi kecil-kecilan lah gitu.
Faktanya Indonesia nongol di gelaran World Cup tahun 1938 di prancis, saat masih dijajah, ditindas, diperas, dizolimi, dihajar, disiksa, dibantai, diperkosa, diperbudak, dan seterusnya ma si belanda yang kini banyak fansnya dari Indonesia sendiri dan barusan dikibarin tuh bendera belanda ma fanatik belanda yang ga melek sejarah, kalau dulu susah banget nurunin bendera “merah putih biru” yang taruhanya nyawa tapi sekarang eh dengan senang hati ngibarin bendera londo…huh kok jadi ngobrolin sejarah ki pye…
Kembali ke World Cup 1938 prancis saat itu diikuti 15 tim peserta, Indonesia adalah satu-satunya wakil dari asia. Sayangnya Indonesia hanya dikasih kesempatan main cuma sekali saja, ya jelas lah itu kan Cuma pertandingan penyisihan antara Indonesia yang dulu masih bernama Dutch East Indies melawan hongaria dan hasilnya dibantai habis 6-0 menang hongaria. Tim Indonesia yang diperkuat pelatih asal belanda Johannes Van Mastenbroek terpaksa pulang kampong paling awal dibanding peserta lain. Tim Indonesia yang kebanyakan diisi pemain-pemain penjajah…eh belanda ini tetap puas karena merupakan satu-satunya tim dari asia yang mampu maju ke final Piala Dunia.
Apalagi setelah itu tim Indonesia belum pernah lagi mencicipi gerahnya turnamen Piala Dunia. Hingga kini, Indonesia masih bercita-cita mengulang kenangan manis masuk jajaran tim-tim elite seluruh dunia. Ayo semangan tim Indonesia, meski kinerja PSSI amburadul, korup dan ga ada yang bermutu pengurusnya, tim merah-putih tetap harus berjuang menggapai tampuk Piala Dunia!!

Rabu, 21 Juli 2010

Lebron James Fun facts

  • Born:  1984 / 12 / 30
  • Postion: Guard
  • Number: #23
  • Height: 6´7
  • Weight: 240
  • Lebron is lefthanded, but shoots with his righthand.
  • Lebron listens to hip hop alot and his favorite rapper is Jay-Z.
  • Lebron has always been a big fan of the Ohio State Buckeyes.
  • Lebron loves cereal. His favorites are Fruity Pebbles which he has a pair of choosed designed like.
  • Drives Hummer H2 with three tv's, which was a gift from his mother Gloria James

Lebron James

Lebron was a natural talent in football. He scored 19 touchdowns in six games in his first year of Pee Wee football, when he only was a fourth-grader. However, in spite of his success, he started to miss out of school on regular basis. His coach, Mr. Walker, noticed it and offered his mother to give LeBron a more stable living environment. So it ended up with LeBron moving in to the family of his coach. It showed out to be an excellent solution for LeBrons as he learned discipline, family life and immediately this showed off very positively in his school reports. Mr Walker also had a great impact on LeBron´s basketball. Also the Walker family helped LeBron to return to his mother's home whenever he so desired. Besides that, LeBron now made some new friends and soon they were a terrific team on the basketball court.

Why did Mr. Walker offer LeBron a more stable living environment? His mother, Gloria James, was only 16 years when she gave birth to LeBron on December 30, 1984 in Akron, Ohio. His father had no interest at all in taking care of his newborn baby. The father left the small family without taking any responsibility at all. Life was hard for the young mother and she raised LeBron totally on her own, as her own mother passed away when LeBron was still an infant.

Gloria James tried to work wherever she was offered a job, but usually the jobs did not last long and her only solution was to move from one job to another. The young mother and her son had their residence mostly in Akron, south of Cleveland, but the different apartments were many. Although the hard living, Gloria James succeeded to keep her little son out of violence of the streets. At a very early age she gave him a ball and it hold him occupied for hours every day during the weeks. The little boy showed unlimited interest in playing with the ball.

In school life was not very easy for LeBron. He was ashamed of his poor living and he was shy and introvert. He had not many friends and he had also a hard time to study. But when it came to sports, there were not many who could beat him, as he became an outstanding athlete. When he played basketball he was thoughtful of his teammates as he did not keep the basketball for himself, but distributed it to his teammates. Still he was excellent in taking the ball to the hole as he had a natural quickness and strength