This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 08 Maret 2010

Posiding

Hm.m.m.m.m...
Kok jadi kepengen masuk jurusan kimia gini ya aku..? aahh daripada ngayal yang nggak jelas mending aku bca ae buku2 arek kimia. Ngaak sengaja nemu ini nich. Namanya POSIDING. Di jurusanku kmren sbnranya pernah diajarkan, tapi gara2 akunya bubuk siang di kelas ^^ jadine ya gini ni..lupa-lupa ingEt

Prosiding Skripsi Semester Genap 2008/2009 SK -12

STUDI INHIBISI PADA BAJA SS 304 DALAM LARUTAN HCl 2 M
DENGAN ASAM LINOLEAT

Firdausy Alfiansyah*, Harmami1, Suprapto2

Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

ABSTRAK
Inhibisi dengan menggunakan larutan asam linoleat terhadap korosi baja 304 dalam larutan HCL 2 M telah diselidiki menggunakan metode pengukuran pengurangan berat, dan polarisasi Tafel. Hasil penelitian memperoleh bahwa asam linoleat dapat berperan sebagai penghambat korosi untuk sistem yang diuji. Efisiensi inhibisi meningkat dengan meningkatnya konsentrasi asam linoleat. Perlakuan inhibisi dengan asam linoleat, dibahas dengan melihat adsorpsi komponen pada permukaan baja, yang kemudian membentuk semacam halangan untuk transfer muatan. Adsorpsi komponen linoleat pada permukaan baja merupakan proses yang spontan dan mengikuti adsorpsi isotherm Langmuir. Efisiensi Inhibisi akan mencapai optimum pada saat konsentrasi asam linoleat sebesar 350 µL/L.

Kata kunci: inhibisi korosi, baja SS 304, Asam Linoleat, Polarisasi.


ABSTRACT
The inhibitive action of the aqueous linoleic acid toward the corrosion of SS 304 in 2 M HCl solution was investigated using weight loss measurements, and Tafel polarization. It was found that the linoleic acid acts as a corrosion inhibitor for the tested system. The inhibition efficiency increases with increasing linoleic acid concentration. The inhibitive action of the extract is discussed with a view to adsorption of its components onto the steel surface, making a barrier to mass and charge transfer. The adsorption of linoleic components onto the steel surface was found to be a spontaneous process and to follow the Langmuir adsorption isotherm. The inhibition efficiency will be optimum at 350 µL/L of linoleic acid concentration.

Keywords: Corrosion inhibition; SS 304; Linoleic Acid; Polarisation.



PENDAHULUAN
Baja adalah logam paduan yang komponen utamanya adalah besi, dengan karbon sebagai material paduan utama. Menurut definisi klasik, baja adalah besi-karbon paduan dengan kadar karbon sampai 5,1 persen. Variasi jumlah karbon dan penyebaran paduan dapat mengontrol kualitas baja. Terdapat beberapa kelas baja di mana karbon diganti dengan material paduan lainnya, diantaranya dapat berupa baja stainless steel dan baja karbon (Hasnan,2006). Penggunaan baja dalam industri, memungkinkan terjadinya interaksi dengan berbagai medium. Yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah korosi. Korosi ini dapat terjadi pada semua inventaris, baik berupa peralatan industri, alat transportasi, serta infrastruktur.








Secara umum, masalah korosi dapat diatasi dengan beberapa cara, diantaranya: proteksi katodik, coating, dan penggunaan inhibitor kimia. Inhibitor pada umumnya digunakan dengan konsentrasi kecil saat suatu logam kontak dengan suatu medium yang agresif (Surya, 2004). Inhibitor terbagi menjadi 2 macam, yaitu: inhibitor anorganik dan inhibitor organik. Namun, dewasa ini, Inhibitor yang paling sering digunakan adalah inhibitor organik. Hal ini dikarenakan terpenuhinya beberapa syarat untuk berlaku seperti inhibitor oleh inhibitor organik, yakni: murah, tidak toksik (tidak beracun), ramah lingkumgan, dan harus seusai dengan kondisinya, serta inhibisinya dalam proses korosi terbilang tinggi.
Banyak riset terbaru sudah mengadopsi tren penggunaan inhibitor organik. Hasil yang diperoleh dari eksperimen sebelumnya di (dalam) bidang ini yaitu : ekstrak Khillah dapat menghambat korosi pada baja di (dalam) larutan HCL dengan efisiensi sebesar 99%, ekstrak opuntia menghambat korosi pada aluminum di dalam asam yang sama dengan efficiency sekitar 96%. Sedangkan ekstrak larutan dari daun olive ( Olea europaea L) dapat berperan sebagai suatu penghambat untuk korosi pada Baja karbon dalam larutan HCL 2 M, dengan efisiensi sebesar 90% . Mengacu pada uraian di atas, maka dilakukanlah Percobaan ini yang bertujuan untuk menguji asam linoleat sebagai inhibitor untuk korosi. Pengujian dilakukan pada Baja SS 304 dalam larutan HCL 2 M. Pengukuran pengurangan berat, dan polarisasi potentiostatik digunakan untuk percobaan ini. Pengukuran pengurangan berat, dan polarisasi potentiostatik digunakan untuk percobaan ini

METODOLOGI PENELITIAN
Alat dan Bahan
Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah gelas ukur, beaker gelas, erlenmeyer, labu ukur, pengaduk, pipet tetes, mikropipet, Elektroda Pt, Elektroda kalomel, Potensiostat PGS 201 T, FT-IR.

Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam yaitu NaOH, HCl, Asam oksalat, Asam Linoleat, aquades, Baja SS 304.

Prosedur Kerja
Pada eksperimen digunakan baja SS 304. Baja ini mempunyai komposisi kimia 0.08% C, 2% Mn, 0.45% P, 0.03% S, 0.75% Si, 18-20% Cr, dan 8-10,5 % Ni, dan sisanya adalah besi. Spesimen Baja biperoleh dari tempat penjualan baja stainless.
Metode yang digunakan pada eksperimen kali ini yaitu : metode pengurangan berat, metode polarisasi potensiostatik. Untuk metode pengurangan berat, baja yang digunakan mempunyai dimensi ( 3; 3; 0,1 cm) dan luas permukaan 19,2 cm2. Untuk eksperimen polarisasi potentiostatik, baja yang digunakan mempunyai dimensi (d =1,4 cm, t = 1 cm), dengan luas area permukaan 1,54 cm2. Elektroda digosok dengan kertas ampelas, dicuci dengan aseton, dan dibilas air suling sebelum dimasukkan ke dalam larutan uji.
Semua bahan kimia yang digunakan untuk menyiapkan larutan uji dalam eksperimen ini dilakukan secara analitis, dan eksperimen dilakukan pada suhu ruang
Asam linoleat diperoleh dari PT Indofa Utama Multi Core dengan jenis “Linoleic Acid 5 ml fluka”. Asam linoleat dibuat menjadi 50, 100, 150, 200, 250, 300, 350, 400, 450, 500 µL/L dalam HCl 2M
Untuk metode pengukuran pengurangan berat, baja diukur terlebih dahulu berat mula-mula. Kemudian baja diletakkan pada larutan uji selama ± 1 hari pada suhu ruang. Penghitungan efisiensi inhibisi berdasarkan pada pengukuran pengurangan berat pada akhir keseluruhan proses. Eksperimen dengan metode pengurangan berat dilakukan secara truplo, masing-masing dengan suatu pelat baja dan suatu larutan asam yang belum ditambahkan asam linoleat. Persentase dari efisiensi inhibisi dihitung menggunakan persamaan:



Dimana W dan Wi adalah tingkat korosi baja saat sebelum dan sesudah ditambahkan asam linoleat.
Untuk metode polarisasi potensiostatik dilakukan dengan menggunakan “PGS 201 T” untuk menghitung parameter korosi (arus korosi, potensial korosi, konstanta tafel) seperti halnya integrasi arus untuk menghitung densitas muatan. Parameter korosi dihitung dari intersep anodik dan katodik Tafel. Tiga bagian sel dengan suatu elektroda acuan kalomel (SCE) dan suatu elektroda bantu platinum foil digunakan pada eksperimen ini. Efisiensi inhibisi IE dihitung menggunakan persamaaan:



Dimana I dan Ii merupakan densitas arus korosi saat sebelum dan sesudah kontak dengan larutan asam.

HASIL DAN DISKUSI
Metode Pengukuran pengurangan berat
Data pada tabel 1 menampilkan hasil yang diperoleh dari pengukuran pengurangan berat. Data menunjukkan bahwa laju korosi pada baja stainless 304 berkurang saat penambahan Asam Linoleat. Hal ini mencerminkan efek inhibisi korosi asam dari asam linoleat pada baja 304. Efisiensi korosi meningkat dengan peningkatan konsentrasi ekstrak. Efisiensi mencapai 93,215 % untuk 350 µL/L ekstrak yang ditambahkan.

Tabel 1. Perilaku korosi pada baja karbon dalam keadaan tanpa dan dengan adanya inhibitor di dalam larutan HCl 2 M dengan metode pengurangan berat

Konsentrasi
(µL/L) ∆ŵ
(gram) Efisiensi Inhibisi (%) θ
0 0,336 0,000 0,000
50 0,034 89,365 0,893
100 0,033 90,472 0,905
150 0,030 91,354 0,914
200 0,027 91,592 0,915
250 0,026 92,454 0,925
300 0,025 92,791 0,928
350 0,023 93,215 0,932
400 0,035 91,363 0,914
450 0,056 83,614 0,836
500 0,070 78,948 0,789

Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa terdapat hubungan antara konsentrasi asam linoleat yang ditambahkan pada larutan uji dengan efisiensi inhibisi dari asam linoleat. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 1.


Gambar 1. Hubungan Konsentrasi dengan Efisiensi
Inhibisi

Perilaku Adsorpsi
Inhibisi yang dilakukan oleh asam linoleat untuk korosi asam pada baja, berhubungan dengan adsorpsi dari asam linoleat pada permukaan baja. Lapisan adsorpsi yang terbentuk, bertindak sebagai penghalang antara permukaan baja dan larutan yang agresif, dan menurunkan laju korosi. Hal ini menunjukkan bahwa efisiensi inhibisi berbanding lurus dengan fraksi dari permukaan yang dilapisi oleh molekul adsorban (θ). Maka θ dihitung dengan persamaan:







Gambar 2. Struktur Asam Linoleat

Saat konsentrasi Linoleat (C), diplot terhadap (C/θ), diperoleh garis lurus dengan suatu slope, dan dapat dilihat pada Gambar 4.2. Perilaku ini menyatakan bahwa asam linoleat yang teradsorp pada permukaan baja mengikuti adsorpsi isotherm Langmuir. Menurut adsorpsi isotherm Langmuir, tidak ada kekuatan interaksi antara molekul yang diadsorpsi, dan energi adsorpsi bersifat independen pada pelapisan permukaan (θ). Adsorpsi isotherm Langmuir dapat dilihat pada persamaan berikut:


(El-Etre, 2007)
Dan hasil perhitungan ditunjukkan pada Tabel 1. Variasi θ dengan konsentrasi asam linoleat menunjukkan adsorpsi isotherm yang berlaku pada sistem. Adsorpsi isoterm tersebut dapat terlihat pada Gambar 3.


Gambar 3. Kurva Isoterm Adsorpsi Asam Linoleat Terhadap Baja SS 304

Polarisasi
Metode polarisasi bertujuan untuk mengetahui seberapa besar arus korosi (Ikor) dan potensial korosi (Ekor) dari baja 304 dalam larutan uji, saat sebelum dan sesudah ditambahkan asam linoleat yang bertindak sebagai inhibitor dengan menggunakan kurva Tafel yang diperoleh dari hasil Polarisasi. Polarisasi dilakukan dengan menggunakan alat Potensiostat PGS 201 T, dengan scan rate 20 mV/s. Range area potensial yang digunakan adalah antara -2500 mV sampai dengan +1000 mV.


Gambar 4. Kurva Polarisasi HCl 2 M, Asam Linoleat 150, 250, 350 µL/L

Pada Gambar 4 menunjukkan bahwa polarisasi bergeser ke arah yang lebih negatif seiring dengan bertambahnya konsentrasi asam linoleat yang ditambahkan. Adanya pergeseran ini menunjukkan arus yang dihasilkan pada proses polarisasi semakin turun. Hal ini mengindikasikan bahwa asam linoleat dapat menginhibisi korosi semakin kuat dengan bertambahnya konsentrasi asam linoleat sampai pada konsentrasi 350 µL/L, yang mana dapat menghasilkan arus korosi yang paling kecil.

Gambar 5. Kurva Polarisasi Asam Linoleat 350,400, 500 µL/L
Pada Gambar 5 semakin bertambahnya konsentrasi asam linoleat dari 350 µL/L sampai dengan 500 µL/L, arus korosi yang dihasilkan cenderung tetap bahkan naik. Hal ini dikarenakan pada konsentrasi 350 µL/L, asam linoleat telah mencapai titik maksimum dalam proses inhibisi. Sehingga saat penambahan konsentrasi di atas 350 µL/L, proses inhibisi cenderung menurun dan efisiensi inhibisi akan semakin turun. Parameter korosi pada baja SS 304 di dalam larutan HCl 2 M tanpa dan dengan adanya asam linoleat pada konsentrasi berbeda telah dihitung dan dapat dilihat pada Tabel 2.





Tabel 2 Parameter korosi baja karbon di dalam larutan HCl 2 M tanpa dan dengan adanya inhibisi dengan perbedaan konsentrasi Asam Linoleat

Konsentrasi (µL/L) Ecorr
(mV) I corr
(µA/cm2) IE % ‐βc βa
Tanpa -639,0 89,4 168,2 268,7
50 -694,7 84,4 6% 171,9 214,1
100 -680,1 82,8 7% 169,2 268,3
150 -705,7 82,3 8% 152,3 226,4
200 -769,8 80,2 10% 195,9 318,1
250 -693,3 79,6 11% 156,9 246,4
300 -749,5 68,7 23% 177,7 232,4
350 -684,0 53,8 40% 118,1 186,2
400 -784,9 88,1 2% 182,0 253,3
450 -672,6 92,9 -4% 192,9 219,1
500 -665,8 93,9 -5% 178,1 263,8



KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa bahwa Asam linoleat dapat bertndak sebagai inhibitor korosi untuk baja SS 304 di dalam larutan HCl 2 M. Adsorpsi komponen linoleat ditandai dengan adsorpsi fisik yang kurang sempurna pada permukaan baja. Konsentrasi optimum inhibisi dari asam linoleat dalam laritan uji berdasarkan metode pengurangan berat dan polarisasi sebesar 350 µL/L, dengan efisiensi inhibisi 93,215 % dan 40 % masing-masing untuk metode pengurangan berat dan polarisasi. Semakin tinggi konsentrasi asam linoleat yang ditambahkan pada larutan uji (HCl 2 M), maka efisiensi inhibisi dari asam linoleat akan semakin besar hingga konsentrasi mencapai optimum pada 350 µL/L. Kemudian setelah melewati konsentrasi optimum, maka efisiensi inhibisi dari asam linoleat cenderung turun.



UCAPAN TERIMA KASIH
1. Ibu Dra. Harmami, M.S, dan Bapak Suprapto Ph.D , selaku dosen pembimbing atas segala diskusi, bimbingan, arahan dan semua ilmu yang bermanfaat.
2. Bapak dan Ibu selaku orang tua terbaik di dunia atas segala doa, dorongan materiil dan spiritualnya.
3. Rekan-rekan A2 dan Rekan tugas akhir dan thesis S1 dan S2 Kimia ITS
4. Serta pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P.W, (1997),“Kimia Fisika”, jilid 2, edisi keempat, Erlangga, Jakarta

Bassler, (1986), “Penyidikan Spektrometrik Senyawa Organik“, edisi keempat, Erlangga, Jakarta

El-Etre, A.Y, (2003),”Inhibition of Aluminium Corrosion Using Opuntia Extract”, Benha University, Egypt

El-Etre, A.Y, (2007),”Inhibition of Acid Corossion of Carbon Steel Using Aqueous Extract of Olive Leaves ”, Benha University, Egypt

Fox, M. A., Whitesell, J. K., (1997), “Core Organic Chemistry“, Jones and Bartlett Publishers, Massachusetts

Hasnan, Ahmad, S., (2006),”Mengenal Baja”, (http://www.oke.or.id/)

Jones, D.A, (1996),”Principles and preventation of corrosion”, Second Edition, Prentice Hall, Inc., United States of America

Murwani, Retno, (2003),”Asam Linoleat Terkonjugasi Penurun Timbunan Lemak”, (www.kompas.com)

Oxtoby, David W, dkk, (2001),”Kimia Modern”, Edisi Keempat, Jilid 1, Erlangga, Jakarta

Rozenfeld, I.L., (1981), “Corrosion Inhibitors”, McGraw-Hill Inc., New York

Surya, Indra, D, (2004),“Kimia Dari Inhibitor Korosi”, UNSUD, Sumatra Utara

Trethwey, K.R, and Chamberlain, J, (1991), “Korosi Untuk Mahasiswa dan Rekayasawan”, P.T Gramedia Pustaka Tama, Jakarta

























BIOGRAFI PENULIS

Penulis dilahirkan di Surabaya pada tanggal 7 April 1988, sebagai anak pertama dari tiga tbersaudara. Penulis adalah alumnus dari TK Aisyah, SD Nasional, SLTP Negeri V Jember dan SMA Negeri II Jember. Setelah lulus menempuh Pendidikan Menengah atas, penulis melanjutkan Pendidikan Tinggi di Jurusan Kimia Fakultas MIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melalui jalur Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK) pada bulan Agustus 2005. Selama menempuh pendidikan tinggi di ITS, penulis pernah aktif dan berpartisipasi dalam organisasi pada HIMKA-ITS. Penulis juga aktif mengikuti beberapa pelatihan, seminar dan study tour. Penulis pernah menjadi koordinator asisten dan asisten laboratorium kimia dasar dan kimia analitik II. Penulis pernah bekerja sebagai guru les privat tingkat SD, SLTP dan SLTA. Penulis menamatkan studi di Jurusan Kimia MIPA dengan mengambil Tugas Akhir pada bidang Kimia Fisik. Penulis menamatkan studi S1 di Jurusan Kimia MIPA dengan mengambil Tugas Akhir pada bidang Kimia Fisik dan berhasil lulus selama 4 tahun dengan predikat Sangat Memuaskan.




Kolokium

Hmm.. kolokium..aku yakin bukan istilah yang asing bagi kawan-kawan yang telah lama berkecimpung di dunia perkimia-an..hhe
Tulisan ini aku dapat dari kakak tingkatku jurusan KImia mipa ITS yang uda lulus tahun kemarin.. Monggo disimak ^^

STUDI DAN PENGEMBANGAN SENYAWA LDPE/PATI
YANG TERBIODEGRADASI SECARA PARSIAL




KOLOKIUM






Oleh :
Victor Rizal Filosofi
Tri yogi Wardhana









Dosen Pembimbing:











Teknik Pengelasan
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
2010


Studi dan pengembangan senyawa LDPE/pati yang terbiodegradasi
secara parsial

Muhammad Mushlik*
Jurusan Kimia Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
.

Abstrak
Penelitian ini menyelidiki tentang penyatuan dari pati yang berbeda, seperti pati alami, pati adipate, pati terasetilasi, dan pati singkong, dalam matriks polietilena yang memiliki densitas rendah (LDPE) untuk memverifikasi kemungkinan memperoleh produk yang terbiodegradasi secara parsial dengan tujuan untuk mengurangi limbah plastik di lingkungan. Pati-pati tersebut dicampur LDPE dengan menggunakan suatu mixer kecepatan tinggi untuk menjamin homogenitas dari formulasi. Karakterisasi dari senyawa itu semua telah dilakukan dengan menggunakan analisa mekanis dan morfologi serta biodegradasi dalam lumpur yang teraktivasi. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan jumlah pati ke dalam matriks olefin adalah yang menyebabkan turunnya sifat-sifat mekanis produk tersebut, jika dibandingkan dengan LDPE murni. Diketahui dari SEM bahwa lumpur yang teraktivasi adalah suatu metoda yang menjanjikan untuk mengikuti biodegradasi.

Kata kunci: LDPE; pati; senyawa Polimer; Biodegradasi; Lumpur yang teraktivasi



1. Pendahuluan

Pentingnya mempelajari formulasi LDPE yang terbiodegradasi memotivasi banyak peneliti dalam area ini [1]. Banyak material buatan seperti poliolefin tidaklah didegradasi oleh mikroorganisme di lingkungan, yang berperan dalam hidup mereka selama beratusan tahun [2]. Di antara poliolefin, LDPE lebih peka terhadap serangan mikroorganisme dalam kondisi tertentu, seperti yang diuraikan oleh Ohtake et Al. [3]. Salah satu alternatif yang sehat untuk mempercepat serangan mikroorganisme ke LDPE adalah penambahan polimer alami, seperti pati, untuk menjamin sedikitnya suatu biodegradasi secara parsial. Dalam sistem yang berisi pati ini, perilaku rheologi dan mekanik, dan juga kepekaan melakukan degradasi, akan tergantung pada beberapa faktor [7]. Sebagai contoh, jumlah dan sifat alami pati yang digunakan, (yang mungkin atau tidak termodifikasi); jenis dan konsentrasi jika menggunakan aditif, dan kondisi prosesnya.


* Ditulis ulang dari: E.M. Nakamura, L. Cordi, G.S.G. Almeida, N. Duran 1, L.H.I. Mei; Study and development of LDPE/starch partially biodegradable compounds; Chemical Engineering Department, State University of Campinas, Brazil

Pati menjadi pilihan yang terbaik karena berlimpah dan harganya murah di pasar. Banyak studi literatur menunjukkan bahwa bahan ini dapat digunakan untuk banyak tujuan: domestik, agrikultur dan industri, dalam kaitannya dengan fasilitas pada pengolahannya.
Menarik untuk mempelajari sifat antar muka antara pati dan poliolefin untuk meningkatkan sifat hidrofilik dan hidrofobiknya, yang bertanggung jawab untuk sifat mekanis yang buruk. Untuk itu, pengenalan tentang komponen lain dalam senyawa LDPE dengan pati telah diteliti. Beberapa contoh adalah co-polymer seperti asam etilena-akrilat (EAA) dan co-polymer PE-g-MA [4], termasuk juga beberapa modifikasi dalam molekul pati itu sendiri.
Senyawa LDPE dengan pati menyajikan sifat mekanik dan thermal yang buruk jika dibandingkan dengan LDPE murni. Adhesi yang buruk antar fase terjadi pada konsentrasi pati sampai 9% untuk senyawa [5] dan 30% ke blends [6]. Untuk penggunaan yang bersifat komersil dari senyawa ini, pati yang termodifikasi menggantikan pati alami untuk meningkatkan adhesi antar muka dari LDPE/pati. Dalam penelitian ini, senyawa LDPE berisi empat jenis pati, seperti alami, adipate, terasetilasi (RD125) dan singkong, dengan perbandingan 95/5, 90/10 dan 80/20 yang telah disiapkan dan diuji terhadap biodegradasi dalam lumpur yang teraktivasi.
Perlakuan Biologis dalam kondisi aerob oleh proses lumpur yang teraktivasi secara meluas digunakan dalam industri [11]. Kapasitas mikroorganisme untuk mendegradasi senyawa organik berbeda, dalam lumpur yang teraktivasi telah diketahui dengan baik. Beberapa bakteri, protozoa dan micrometazoa dikenal karena efisiensi mereka untuk mengkonsumsi material organik [10].
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat suatu produk yang murah dan dapat terbiodegradasi secara parsial, yang bisa menggantikan sebagian komoditas plastik yang tidak terbiodegradasi, yang sebagian besar digunakan untuk aplikasi pertanian.

2. Percobaan
2.1. Bahan
Berikut bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini:
1. Polietilena dengan densitas rendah, DFD- 4400, dari Dow Brazil;
2. Adipate-, alami-; terasetilasi- dan pati singkong yang telah disediakan oleh Produksi Jagung Brazil;
3. Minyak nabati yang dibeli di pasar lokal;
4. Kalsium Stearat dari Cognis Brazil Ltd.

2.2. Prosedur percobaan
Untuk senyawa yang mengandung pati, komponen dari tiap komposisi ditimbang sendiri-sendiri dan kemudian ditambahkan ke dalam wadah di mana mereka dicampur bersama-sama secara manual. Semua senyawa LDPE/pati alami; LDPE/pati terasetilasi; LDPE/pati adipate dan LDPE/pati singkong, dibuat dalam tiga tipe, masing-masing dengan 5, 10 dan 20 wt.% dari tiap jenis pati. Zat aditif yang ditambahkan berupa minyak nabati dan kalsium stearat adalah 1 wt.% untuk semua sampel. Proses homogenisasi dilakukan dengan homogenizer dari M.H. (Model MH-100/200V), selama proses terjadi. Setelah itu, sampel dibentuk alat knife mill, model NFA 1533.
Spesimen untuk uji mekanis diperoleh dengan injeksi molding, menggunakan Injektor Arburg dengan diameter 25mm, L/D= 20. Tekanan injeksi adalah 1500 bar. Pengaruh tekanan dan waktu berturut-turut 800 bar dan 20 s. waktu pendinginan ditetapkan pada 5 s, dan daerah pemanasannya divariasi dari 110 sampai 160 C.
Uji Biodegradasi dilakukan dengan proses lumpur yang teraktivasi. Lumpur diperoleh dari suatu kotapraja yang menangani air limbah di Campinas, Brazil. Lumpur dikumpulkan dan ditransportasikan ke dalam botol-botol yang tidak terisi penuh agar tetap terjadi proses oxygenasi [9]. Polimer dipindahkan dari lumpur teraktivasi, di bawah kondisi yang tetap, dan dicuci dengan air suling, yang diikuti dengan pengeringan untuk menguji kemungkinan proses biodegradasi.
Senyawa LDPE/pati dikarakterisasi dengan analisa mekanis, yang dilakukan dengan peralatan uji universal EMIC, model DL2000, 5 kN muatan sel. Uji percepatan regangan adalah 50 mm/min, untuk spesimen dengan ketebalan 3.3mm dan 12.9 mm, mengikuti standar Astm D-638. Uji percepatan Flexural adalah 1.3 mm/min untuk spesimen ketebalan 3.3mm dan mengikuti ASTM D-790.
SEM (Peralatan Leica, model 440i) telah digunakan untuk menunjukkan antar muka LDPE/pati sebelum dan sesudah uji biodegradasi.

3. Hasil Dan Diskusi
3.1. Analisa mekanis
Tabel 1 menunjukkan data percobaan uji tarik untuk semua senyawa LDPE/pati yang dikembangkan dalam penelitian ini.


Tabel 1. Uji tarik untuk senyawa LDPE/pati


Dapat diamati pada gambar 1 bahwa perilaku mekanis dari senyawa LDPE/pati , data diplot sesuai angka-angka yang diberi oleh Tabel 1.





Gambar 1. Rata-Rata dan simpangan baku untuk sifat mekanis senyawa LDPE/pati:
(a) kekuatan-tarik; (b) elongation at break; (c) Modulus Young.

Pengukuran kuat tarik menunjukkan bahwa dengan semakin banyaknya isi pati dalam sampel, menyebabkan semakin menurunnya nilai sifat mekanisnya. Dengan menganalisa nilai-nilai elongation at break, itu dapat dicatat bahwa pengurangan tersebut adalah jelek, sehingga titik yang berhubungan dengan sampel LDPE murni dihapuskan dari skala untuk mendapatkan suatu visualisasi yang lebih baik. Nilai modulus young menunjukkan bahwa matriks menjadi lebih rigid pada sampel LDPE/pati yang berisi 20 wt.% pati. Tetapi senyawa yang mengandung sedikit pati (5 dan 10 wt.%), menunjukkan nilai modulus dibawah modulus LDPE murni. Hanya senyawa dengan 20 wt.% pati menunjukkan nilai-nilai modulus yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan LDPE murni. Perilaku senyawa-senyawa pati membenarkan hipotesis bahwa walaupun pati dapat meningkatkan kuat tarik material tersebut, penambahan ini menyebabkan memburuknya sifat-sifat yang lain, mungkin karena buruknya antar muka matriks/muatan yang memiliki tingkat kecocokan rendah dan juga mungkin menurunnya sifat kristalinitas LDPE. Fakta menyarankan bahwa ada kuat tarik internal dalam matriks LDPE, yang mencerminkan peningkatan suatu kerapuhan.
Dengan membandingkan berbagai jenis pati yang digunakan di dalam formulasi, sampel yang berisi pati singkong menunjukkan sedikit variasi, dalam kaitan dengan nilai mutlak, untuk sifat mekanis. Tetapi dengan mempertimbangkan simpangan baku dari semua sampel adalah tidaklah mungkin untuk menentukan dengan cukup tepat yang mana jenis pati menunjukkan suatu performa yang lebih baik. Hasil untuk uji flexural ditunjukkan pada Table 2. Pendekatan dipakai dalam kasus ini adalah sama untuk uji tarik.

Tabel 2. Uji Flexural untuk senyawa LDPE/pati


Gambar 2 menunjukkan pengukuran uji flexural untuk semua jenis pati yang dipelajari.



Gambar 2. Rata-Rata dan simpangan baku untuk sifat mekanis beberapa senyawa LDPE/pati: (a) kekuatan-tarik; (b) modulus flexural.

Suatu perilaku yang berlawanan dari uji tarik sebelumnya telah diamati selama analisa dari parameter lain sebagai modulus flexur dan kuat tarik, yang meningkat dengan peningkatan isi pati. Hal ini mungkin karena turunnya mobilitas rantai di dalam pati disebabkan oleh turunnya volume bebas dari rantai-rantai yang mengalami tekanan. Menarik untuk dicatat bahwa pengaruh adhesi antar muka yang buruk tidak mempengaruhi uji tarik dalam suatu perluasan yang besar, kemungkinan karena adanya gaya dorong yang tidak banyak dipengaruhi oleh tarikan antar muka yang rendah antara LDPE dan pati sebagai gaya penarik.
Perlu dicatat bahwa pati singkong yang memberikan hasil yang lebih baik dari pada pati jenis lain pada 5 dan 10 wt.%, dibandingkan dengan pati lain yang digunakan. Itu dapat dilihat pada gambar 2, nilai rata-rata dan simpangan baku mereka untuk kekuatan-tarik dan modulus flexur dari senyawa LDPE/pati.

3.2. Morfologi senyawa
Gambar 3–6 menunjukkan antar muka LDPE/pati secara detail, sebelum uji biodegradasi. Mungkin perlu dicatat bahwa untuk pati alami, antar muka LDPE/pati tidak menunjukkan homogenitas Karena sifat alaminya berlawanan terhadap komponen-komponennya (LDPE hidrofobik vs pati hidrofilik). Sebagai konsekwensi, penyatuan pati menyebabkan banyak ketidaksempurnaan matriks polymeric, dengan begitu mengurangi performanya. Sampel yang berisi pati RD125 menunjukkan antar muka yang lebih homogen, yang menandakan antar muka yang lebih baik antara LDPE dan pati yang termodifikasi (gugus acetyl cenderung untuk mengurangi polaritas pati, sehingga membuatnya lebih kompatibel dengan LDPE). Senyawa pati Adipate juga menunjukkan gaya tarik menarik antar muka yang lebih baik, jika dibandingkan dengan pati alami dan pati yang terasetilasi; tetapi mereka tidaklah cukup kuat untuk meningkatkan sifatnya. Menurut analisa mekanis, sampel yang berisi pati singkong menunjukkan nilai yang terbaik dari ke semua sifat, dan juga antar muka yang terbaik, seperti yang ditunjukkan pada gambar 6.

Gambar 3. SEM untuk senyawa LDPE/ pati alami: (a) 1000x pembesaran; (b) 3000× pembesaran.


Gambar 4. SEM untuk senyawa LDPE/pati terasetilasi: (a) 1000× pembesaran; (b) 3000× pembesaran.
Gambar 5. SEM untuk senyawa LDPE/pati adipate: (a) 1000× pembesaran; (b) 3000× pembesaran.

Gambar 6. SEM untuk senyawa LDPE/pati singkong: (a) 1000× pembesaran; (b) 3000× pembesaran.
3.3. Uji Biodegradasi
Setelah 1 bulan di dalam lumpur, sampel dikumpulkan dan diserahkan untuk analisis SEM. Hasil ditunjukkan pada pada gambar 7–10.

Gambar 7. SEM untuk senyawa LDPE/pati alami setelah di uji selama 1 bulan: (a) 1000× pembesaran; (b) 3000× pembesaran.


Gambar 8. SEM untuk senyawa LDPE/pati terasetilasi setelah di uji selama 1 bulan: (a) 1000× pembesaran; (b) 3000× pembesaran.

Gambar 9. SEM untuk senyawa LDPE/pati adipate setelah di uji selama bulan: (a) 1000× pembesaran; (b) 3000× pembesaran.

Gambar 10. SEM untuk senyawa LDPE/pati singkong setelah di uji selama 1 bulan: (a) 1000× pembesaran; (b) 3000× pembesaran.

Gambar-gambar ini menunjukkan bahwa mikroorganisme yang ada di dalam lumpur yang teraktivasi telah mendegradasi pati, dan sesuai dengan laporan Abd El-Rehim [8], mereka adalah yang bertanggung jawab dari oksidasi daerah amorf LDPE, yang sekarang sedang diselidiki. Walaupun bagian terpenting dari pati telah dikonsumsi, struktur matriks polymeric tidaklah berubah secara signifikan. Sampel yang berisi adipate atau pati singkong menunjukkan antar muka yang lebih baik dengan matriks LDPE, seperti dapat diamati pada gambar 9 dan 10.

4. Kesimpulan
1. Proses pembuatan dengan menggunakan suatu homogenizer kecepatan tinggi di anggap sangat memuaskan, dalam kaitannya dengan hamburan yang rendah dari data percobaan pada analisa mekanis untuk bagian terbesar dari senyawa yang telah disiapkan.
2. Penambahan pati menyebabkan suatu dampak negatif pada hambatan mekanis dan elongation at break, jika dibandingkan dengan LDPE murni, mungkin karena timbulnya gaya strain internal dan gaya antar muka matriks–pati yang buruk.
3. Sampel yang berisi adipate dan pati singkong menunjukkan hasil yang lebih baik untuk uji biodegradasi dan mekanis. Karena alasan ini, mereka lebih baik digunakan dengan LDPE.
4. Pemanfaatan prosedur lumpur yang teriaktifkan merupakan proses yang menjanjikan untuk studi biodegradasi dari semua senyawa yang dikembangkan dalam penelitian ini.

Ucapan terima kasih

Ucapan terima kasih kami berikan kepada:
• Allah SWT atas segala karunia dan hidayahNya.
• Lukman Atmaja, Ph.D. selaku dosen pembimbing.
• Nurul Widiastuti, MSi., Ph.D. selaku dosen penguji.
• Dra. Zulfi Yetra, Ms. Selaku coordinator kolokium.
• Semua pihak yang membantu proses penulisan naskah kolokium ini.


Daftar pustaka

[1] P.J. Stenhouse, J.M. Mayer, M.J. Hepfinger, E.A. Costa, D.L. Kaplan, in: C. Ching, D. Kaplan, E. Thomas (Eds.), 1993, “Biodegradable Polymers and Packaging”, Technomic Publishing Company, hal. 151–158
[2] P.K. Sastry, D. Satyanarayana, D.V.M. Rao, 1998, “J. Appl. Polym. Sci.“, 70, hal. 2251–2257
[3] Y. Ohtake, T. Kobayashi, S. Itoh, H. Asabe, M. Yabuki, N. Murakami, K. Ono, 1995, “Int. Polym. Sci.” Technol. 22 (2) , t/51–t/57
[4] D. Bikiaris, J. Prinos, K. Koutsopoulos, N. Vouroutzis, E. Pavlidou, N. Frangis, C. Panyiotou, 1998, “Polym. Degrad. Stabil.”, 59, hal. 287–291
[5] J. Aburto, S. Thiebaud, I. Alric, E. Borredon, D. Bikiaris, J. Prinos, C. Panyiotou, 1997, “Carbohyd. Polym.”, 34, hal. 101–112
[6] I. Arvanitoyannis, C.G. Biliaderis, H. Ogawa, N. Kawasaki, 1998, “Carbohyd. Polym.”, 36, hal. 89–104
[7] D. Zuchowska, R. Steller, W. Meissner, 1998, “Polym. Degrad. Stabil.”, 60, hal. 471–480
[8] H.A. Abd El-Rehim, 2004, “J. Photochem. Photobiol. A: Chem.”, 163, hal. 547–556
[9] CETESB, 1989, “Microbiologia de Lodos Ativados”.
[10] A.C.G. Parente, Master Thesis, 1998, “Food Science Eng. Department”, State University of Campinas.
[11] P.A. Sobrinho, 1993, “ Rev. DAE”, 132, hal. 49–85




Perkuliahan Hari kedua Fatique n Fracture


Tiap Minggu harus buat resume.. huft,,,sungguh melelahkan. Tapi tak apalah,kan bntar lg lulus. Jadi seseklai taat ma Pak Dosen nggak ada salahnya..hehehe


Tugas Resume Fatique and Fracture
Edisi 2 ( 7 Maret 2010)

Beban dinamis merupakan penyebab utama patah pada konstruksi,selain korosi dan factor lainnya. Faktor yang mempengaruhi umur lelah adalah :
• Beban
o Jenis beban
o Frekwensi siklus beban
o Pola beban
o Bear tegangan
• Kondisi Material
• Proses pengerjaan
• Bentuk dan ukuran komponen
• Temperatur operasi
• Kondisi lingkungan
Umur lelah biasanya dinyatakan sebagai jumlah siklus tegangan yang dicapai sampai specimen patah. Gambaran pembebanan seperti dibawah bisa digunakan untuk uji lelah sederhana.












Kurva SN merepresentasikan data umur lelah material. Baja memiliki jumlah siklus tegangan yang jelas yaitu antara 10 pagkat 6 hingga 10 pangkat 7.

RBM Fatique Testing


Rasio tegangan adalah besarnya tegangan yang paling rendah (σmin) dibagi dengan tegangan yang paling besar (σmak)

Sabtu, 16 Januari 2010

Plastik

Gara-gara dapet tugas membuat nakalah ttg plastik, akhirna jadilah artikel ini. Susah payah ke warnet mpe malem banget gara-gara nggak ingin mengecewakan bapak dosenku tercinta nie ceritana. Buka sana sini, blog temen2 yang lain juga lembaga2 serta referensi dari kampus2 di indonesia akhirnya aku kumpulin resumenya seperti dibawah ini...
Lha setelah itu kan ngirimnya mesti lewat e-mail, ndilalah yahoo sulit klu mau di attach ma file..duh..duuh..

Plastik
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Istilah plastik mencakup produk polimerisasi sintetik atau semi-sintetik. Mereka terbentuk dari kondensasi organik atau penambahan polimer dan bisa juga terdiri dari zat lain untuk meningkatkan performa atau ekonomi. Ada beberapa polimer alami yang termasuk plastik. Plastik dapt dibentuk menjadi film atau fiber sintetik. Nama ini berasal dari fakta bahwa banyak dari mereka "malleable", memiliki properti keplastikan. Plastik didesain dengan varias yang sangat banyak dalam properti yang dapat menoleransi panas, keras, "reliency" dan lain-lain. Digabungkan dengan kemampuan adaptasinya, komposisi yang umum dan beratnya yang ringan memastikan plastik digunakan hampir di seluruh bidang industri.


Pellet atau bijih plastik yang siap diproses lebih lanjut (injection molding, ekstrusi, dll)
Plastik dapat juga menuju ke setiap barang yang memiliki karakter yang deformasi atau gagal karena shear stress- lihat keplastikan (fisika) dan ductile.
Plastik dapat dikategorisasikan dengan banyak cara tapi paling umum dengan melihat tulang-belakang polimernya (vinyl{chloride}, polyethylene, acrylic, silicone, urethane, dll.). Klasifikasi lainnya juga umum.
Plastik adalah polimer; rantai-panjang atom mengikat satu sama lain. Rantai ini membentuk banyak unit molekul berulang, atau "monomer". Plastik yang umum terdiri dari polimer karbon saja atau dengan oksigen, nitrogen, chlorine atau belerang di tulang belakang. (beberapa minat komersial juga berdasar silikon). Tulang-belakang adalah bagian dari rantai di jalur utama yang menghubungkan unit monomer menjadi kesatuan. Untuk mengeset properti plastik grup molekuler berlainan "bergantung" dari tulang-belakang (biasanya "digantung" sebagai bagian dari monomer sebelum menyambungkan monomer bersama untuk membentuk rantai polimer). Pengesetan ini oleh grup "pendant" telah membuat plastik menjadi bagian tak terpisahkan di kehidupan abad 21 dengan memperbaiki properti dari polimer tersebut.
Pengembangan plastik berasal dari penggunaan material alami (seperti: permen karet, "shellac") sampai ke material alami yang dimodifikasi secara kimia (seperti: karet alami, "nitrocellulose") dan akhirnya ke molekul buatan-manusia (seperti: epoxy, polyvinyl chloride, polyethylene).
[sunting] Sejarah
Plastik merupakan material yang baru secara luas dikembangkan dan digunakan sejak abad ke-20 yang berkembang secara luar biasa penggunaannya dari hanya beberapa ratus ton pada tahun 1930-an, menjadi 150 juta ton/tahun pada tahun 1990-an dan 220 juta ton/tahun pada tahun 2005. Saat ini penggunaan material plastik di negara-negara Eropa Barat mencapai 60kg/orang/tahun, di Amerika Serikat mencapai 80kg/orang/tahun, sementara di India hanya 2kg/orang/tahun.[1]
[sunting] Jenis plastik
Plastik dapat digolongkan berdasarkan:
• Sifat fisikanya
o Termoplastik. Merupakan jenis plastik yang bisa didaur-ulang/dicetak lagi dengan proses pemanasan ulang. Contoh: polietilen (PE), polistiren (PS), ABS, polikarbonat (PC)
o Termoset. Merupakan jenis plastik yang tidak bisa didaur-ulang/dicetak lagi. Pemanasan ulang akan menyebabkan kerusakan molekul-molekulnya. Contoh: resin epoksi, bakelit, resin melamin, urea-formaldehida
• Kinerja dan penggunaanya
o Plastik komoditas
 sifat mekanik tidak terlalu bagus
 tidak tahan panas
 Contohnya: PE, PS, ABS, PMMA, SAN
 Aplikasi: barang-barang elektronik, pembungkus makanan, botol minuman
o Plastik teknik
 Tahan panas, temperatur operasi di atas 100 °C
 Sifat mekanik bagus
 Contohnya: PA, POM, PC, PBT
 Aplikasi: komponen otomotif dan elektronik
o Plastik teknik khusus
 Temperatur operasi di atas 150 °C
 Sifat mekanik sangat bagus (kekuatan tarik di atas 500 Kgf/cm²)
 Contohnya: PSF, PES, PAI, PAR
 Aplikasi: komponen pesawat
• Berdasarkan jumlah rantai karbonnya
o 1 ~ 4 Gas (LPG, LNG)
o 5 ~ 11 Cair (bensin)
o 9 ~ 16 Cairan dengan viskositas rendah
o 16 ~ 25 Cairan dengan viskositas tinggi (oli, gemuk)
o 25 ~ 30 Padat (parafin, lilin)
o 1000 ~ 3000 Plastik (polistiren, polietilen, dll)
• Berdasarkan sumbernya
o Polimer alami : kayu, kulit binatang, kapas, karet alam, rambut
o Polimer sintetis:
 Tidak terdapat secara alami: nylon, poliester, polipropilen, polistiren
 Terdapat di alam tetapi dibuat oleh proses buatan: karet sintetis
 Polimer alami yang dimodifikasi: seluloid, cellophane (bahan dasarnya dari selulosa tetapi telah mengalami modifikasi secara radikal sehingga kehilangan sifat-sifat kimia dan fisika asalnya)
[sunting] Proses manufaktur plastik
• Injection molding
Bijih plastik (pellet) yang dilelehkan oleh sekrup di dalam tabung yang berpemanas diinjeksikan ke dalam cetakan.
• Ekstrusi
Bijih plastik (pellet) yang dilelehkan oleh sekrup di dalam tabung yang berpemanas secara kontinyu ditekan melalui sebuah orifice sehingga menghasilkan penampang yang kontinyu.
• Thermoforming
Lembaran plastik yang dipanaskan ditekan ke dalam suatu cetakan.
• Blow molding
Bijih plastik (pellet) yang dilelehkan oleh sekrup di dalam tabung yang berpemanas secara kontinyu diekstrusi membentuk pipa (parison) kemudian ditiup di dalam cetakan.
[sunting] Sifat polimer konduktif
Polimer semikonduktif dan konduktif adalah polimer terkonjugasi yang menunjukkan perubahan ikatan tunggal dan ganda antara atom-atom karbon pada rantai utama polimer. Ikatan ganda diperoleh dari karbon yang memiliki empat elektron valensi, namun pada molekul terkonjugasi hanya memiliki tiga (kadang-kadang dua) atom lain. Elektron yang tersisa membentuk ikatan π, elektron yang terdelokalisasi pada seluruh molekul. Suatu zat dapat bersifat polimer konduktif jika mempunyai ikatan rangkap yang terkonjugasi. Contoh dari polimer terkonjugasi adalah plastik tradisonal (polyethylen), sedangkan polimer konduktif antara lain : polyacetilen, polpyrol, polytiopen, polyaniline dan lain lain.


Pembuatan Polyacetilen
Polimer konduktif dapat dibuat dari polyacetilen. Polyacetilen merupakan polimer terkonjugasi sederhana yang mempunyai dua bentuk: yaitu bentuk cis dan trans polyacetilen.
Sedangkan pembuatan polyacetilen dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
• 1. cara pemanasan
• 2. cara dopping.
Polyacetilen bentuk trans dibuat dengan kondisi temperatur yang berbeda. Katalis Ti(O-n-C4H9)4-(C2H5)3Al.
Temperatur (oC) % trans
150 100
100 92,5
50 67,6
18 40,7
0 21,4
-18 4,6
-78 1,9
Temperatur yang menunjukan proses isomerisasi irreversibel dengan bentuk cis terjadi pada temperatur yang lebih tinggi pada 145 oC menghasilkan bentuk trans. Bentuk cis secara termodinamika kurang stabil dibandingkan dengan bentuk trans. Pada temperatur tinggi, dan secara spontan isomer cis dapat berubah menjadi trans.
Konduktifitas polyacetilen dapat ditingkatkan dengan proses halogenasi. Struktur polyacetilen dapat mengalami resonansi sehingga konduktifitasnya menjadi lebih besar. Adanya resonansi pada poliasetilen menyebabkan material dapat menghantarkan arus listrik.
Bila klorin ditambahkan pada film, ternyata tidak menghasilkan spektrum garis, tetapi reaksi adisi klorin menghasilkan spektrum polyacetilen yang jelas. Sekarang dikenal doping-induced pita IR yang disusun dari 3 pita yaitu pada 1397, 1288 dan 888 cm-1, absorbsi kuat jelas dibanding undoped polymer.
[sunting] Industri
Sekarang ini utamanya ada enam komoditas polimer yang banyak digunakan, mereka adalah polyethylene, polypropylene, polyvinyl chloride, polyethylene terephthalate, polystyrene, dan polycarbonate. Mereka membentuk 98% dari seluruh polimer dan plastik yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Masing-masing dari polimer tersebut memiliki sifat degradasi dan ketahanan panas, cahaya, dan kimia.

[sunting] Sekilas
Meskipun istilah polimer lebih populer menunjuk kepada plastik, tetapi polimer sebenarnya terdiri dari banyak kelas material alami dan sintetik dengan sifat dan kegunaan yang beragam. Bahan polimer alami seperti shellac dan amber telah digunakan selama beberapa abad. Kertas diproduksi dari selulosa, sebuah polisakarida yang terjadi secara alami yang ditemukan dalam tumbuhan. Biopolimer seperti protein dan asam nukleat memainkan peranan penting dalam proses biologi.



l • b • s
Plastik
Polietilen (PE)
Polipropilen (PP)
Polistiren (PS)

Polietilen terephthalat (PET or PETE) Polietilen napthalat (PEN)
Poliester

Polivinil klorida (PVC)
Polikarbonat (PC)
Akrilonitril butadiena stiren (ABS)
Polivinilidena klorida (PVDC) Politetrafloroetilen (PTFE)
Polimetil metakrilat (PMMA)
Asam polilaktat (PLA)
Poliamid (PA)
Poliimid (PI)




Sejarah Plastik
April 27, 2009 - Posted by aRd- BlacKMazk
Sejak tahun 1950-an plastik menjadi bagian penting dalam hidup manusia. Plastik digunakan sebagai bahan baku kemasan, tekstil, bagian-bagian mobil dan alat-alat elektronik. Dalam dunia kedokteran, plastik bahkan digunakan untuk mengganti bagian-bagian tubuh manusia yang sudah tidak berfungsi lagi. Pada tahun 1976 plastik dikatakan sebagai materi yang paling banyak digunakan dan dipilih sebagai salah satu dari 100 berita kejadian pada abad ini.
Plastik pertama kali diperkenalkan oleh Alexander Parkes pada tahun 1862 di sebuah ekshibisi internasional di London, Inggris. Plastik temuan Parkes disebut parkesine ini dibuat dari bahan organik dari selulosa. Parkes mengatakan bahwa temuannya ini mempunyai karakteristik mirip karet, namun dengan harga yang lebih murah. Ia juga menemukan bahwa parkesine ini bisa dibuat transparan dan mampu dibuat dalam berbagai bentuk. Sayangnya, temuannya ini tidak bisa dimasyarakatkan karena mahalnya bahan baku yang digunakan.
Pada akhir abad ke-19 ketika kebutuhan akan bola biliar meningkat, banyak gajah dibunuh untuk diambil gadingnya sebagai bahan baku bola biliar. Pada tahun 1866, seorang Amerika bernama John Wesley Hyatt, menemukan bahwa seluloid bisa dibentuk menjadi bahan yang keras. Ia lalu membuat bola biliar dari bahan ini untuk menggantikan gading gajah. Tetapi, karena bahannya terlalu rapuh, bola biliar ini menjadi pecah ketika saling berbenturan.
Bahan sintetis pertama buatan manusia ditemukan pada tahun 1907 ketika seorang ahli kimia dari New York bernama Leo Baekeland mengembangkan resin cair yang ia beri nama bakelite. Material baru ini tidak terbakar, tidak meleleh dan tidak mencair di dalam larutan asam cuka. Dengan demikian, sekali bahan ini terbentuk, tidak akan bisa berubah. Bakelite ini bisa ditambahkan ke berbagai material lainnya seperti kayu lunak.
Tidak lama kemudian berbagai macam barang dibuat dari bakelite, termasuk senjata dan mesin-mesin ringan untuk keperluan perang. Bakelite juga digunakan untuk keperluan rumah tangga, misalnya sebagai bahan untuk membuat isolasi listrik.
Rayon, suatu modifikasi lain dari selulosa, pertama kali dikembangkan oleh Louis Marie Hilaire Bernigaut pada tahun 1891 di Paris. Ketika itu ia mencari suatu cara untuk membuat sutera buatan manusia dengan cara mengamati ulat sutera. Namun, ada masalah dengan rayon temuannya ini yaitu sangat mudah terbakar. Belakangan masalah ini bisa diatasi oleh Charles Topham.
Demam Plastik
Tahun 1920 ditandai dengan demam plastik. Wallace Hume Carothers, ahli kimia lulusan Universitas Harvard yang mengepalai DuPont Lab, mengembangkan nylon yang pada waktu itu disebut Fiber 66. Fiber ini menggantikan bulu binatang untuk membuat sikat gigi dan stoking sutera. Pada tahun 1940-an nylon, acrylic, polyethylene, dan polimer lainnya menggantikan bahan-bahan alami yang waktu itu semakin berkurang.
novasi penting lainnya dalam plastik yaitu penemuan polyvinyl chloride (PVC) atau vinyl. Ketika mencoba untuk melekatkan karet dan metal, Waldo Semon, seorang ahli kimia di perusahaan ban B.F. Goodrich menemukan PVC. Semon juga menemukan bahwa PVC ini adalah suatu bahan yang murah, tahan lama, tahan api dan mudah dibentuk.
Pada tahun 1933, Ralph Wiley, seorang pekerja lab di perusahaan kimia Dow, secara tidak sengaja menemukan plastik jenis lain yaitu polyvinylidene chloride atau populer dengan sebutan saran. Saran pertama kali digunakan untuk peralatan militer, namun belakangan diketahui bahwa bahan ini cocok digunakan sebagai pembungkus makanan. Saran dapat melekat di hampir setiap perabotan seperti mangkok, piring, panci, dan bahkan di lapisan saran sendiri. Tidak heran jika saran digunakan untuk menyimpan makanan agar kesegaran makanan tersebut terjaga.
Pada tahun yang sama, dua orang ahli kimia organik bernama E.W. Fawcett dan R.O. Gibson yang bekerja di Imperial Chemical Industries Research Laboratory menemukan polyethylene. Temuan mereka ini mempunyai dampak yang amat besar bagi dunia. Karena bahan ini ringan serta tipis, pada masa Perang Dunia II bahan ini digunakan sebagai pelapis untuk kabel bawah air dan sebagai isolasi untuk radar.
Pada tahun 1940 penggunaan polyethylene sebagai bahan isolasi mampu mengurangi berat radar sebesar 600 pounds atau sekitar 270 kg. Setelah perang berakhir, plastik ini menjadi semakin populer. Saat ini polyethylene digunakan untuk membuat botol minuman, jerigen, tas belanja atau tas kresek, dan kontainer untuk menyimpan makanan.
Kemudian pada tahun 1938 seorang ahli kimia bernama Roy Plunkett menemukan teflon. Sekarang teflon banyak digunakan untuk melapisi peralatan memasak sebagai bahan antilengket.
Selanjutnya, seorang insinyur Swiss bernama George de Maestral sangat terkesan dengan suatu jenis tumbuhan yang menggunakan ribuan kait kecil untuk menempelkan dirinya. Lalu pada tahun 1957 de Maestral meniru tumbuhan tersebut untuk membuat Velcro atau perekat dari bahan nylon.


Sejarah Singkat Bahan Plastik
20 September 2007, 11:28 am
Diarsipkan di bawah: Umum
Manusia sejak dulu telah berusaha untuk mengembangkan bahan-bahan buatan (sintetik) yang diharapkan dapat memberikan sifat-sifat unggul yang tidak didapatkan dari bahan-bahan alami yang ada disekitarnya.Bahan plastic buatan pertama kali dikembangkan pada abad ke-19, dan saat ini di awal abad ke-21 jenis bahan ini telah ada disekeliling kita dalam bentuk dan kegunaan yang sangat beragam.
Cellulose nitrate merupakan salah satu jenis bahan plastic yang pertama-tama dikembangkan. Bahan ini ditemukan oleh Alexander Parkes dipertengahan abad ke-19 dan pertama kali dipamerkan pada suatu Pameran Akbar di London tahun 1862 dalam bentuk sol sepatu dan bola-bola billiard. Pada tahun 1869 John Wesley Hyatt mengembangkan bahan Cellulose nitrate ini lebih lanjut dengan cara mencampurkannya dengan camphor menjadi bahan baru yang kemudian diberi nama Celluloid. Bahan ini menjadi sangat popular digunakan pada produk-produk sisir rambut, kancing pakaian dan gagang pisau.
Pada era awal ini, bahan-bahan polimer baru dikembangkan melalui proses modifikasi kimiawi dari bahan polimer alami, dimana bahan rayon (di kenal juga sebagai sutera buatan) merupakan contoh yang paling terkenal. Bahan rayon yang tergolong sebagai bahan semi-sintetik ini dibuat dari bahan dasar selulosa yang dimodifikasi secara kimiawi dan hingga saat ini masih digunakan pada produk-produk karpet, pakaian dan dapat pula diproses menjadi lembaran yang tansparan (cellophane).
Salah satu bahan sintetik yang pertama kali dikembangkan adalah Bakelite, yang ditemukan oleh Leo Baekeland pada tahun 1909. Bakelite adalah bahan yang saat ini popular dengan nama Phenol formaldehyde, dibuat dari phenol dan formaldehyde yang menghasilkan bahan polimer dengan sifat-sifat keras, ringan, kuat, tahan panas, dapat dicetak dan merupakan isolator listrik yang sangat baik, dan karenanya bahan ini banyak dipakai dalam berbagai aplikasi di industri listrik.
Bahan plastik terus mengalami perkembangan sepanjang tahun 1920-an dan 1930-an. Banyak bahan-bahan plastik yang baru dikembangkan ini kemudian digunakan pada Perang Dunia II, dan pada tahun 1050-an bahan-bahan ini telah hadir di rumah-rumah dalam berbagai jenis produk. Saat ini manusia sudah memasuki Era Plastik, dimana pada 50 tahun terakhir volume produksi plastik dunia telah meningkat secara luar biasa, sementara itu tingkat konsumsi bahan plastik telah meningkat dari sekitar satu juta ton pada tahun 1939 menjadi lebih dari 120 juta ton pada tahun 1994. Dewasa ini bahan plastic telah banyak menggantikan bahan-bahan tradisional seperti kayu, logam, gelas, kulit, kertas dan karet karena bahan plastic bias lebih ringan, lebih kuat, lebih tahan karat, lebih tahan terhadap iklim dan merupakan isolator listrik yang sangat baik. Bahan plastik sangat mudah dibentuk menjadi berbagai produk dengan menggunakan mesin cetak dan mesin ekstrusi. Sifat-sifatnya yang unggul dan kemudahan pemrosesannya seringkali menjadikan plastik sebagai bahan yang paling ekonomis untuk digunakan dalam berbagai keperluan. Kini bahan plastik digunakan dalam berbagai industri dan bisnis. Bahan ini telah memenuhi rumah-rumah kita, sekolah-sekolah, rumah sakit dan bahkan bahan ini ada dalam pakaian yang kita kenakan sehari-hari. Banyak dari nama-nama bahan plastik telah menjadi istilah-istilah yang familiar dalam kehidupan sehari-hari: nylon, polyester, dan PVC, misalnya.


Polietilena (disingkat PE) (IUPAC: Polietena) adalah termoplastik yang digunakan secara luas oleh konsumen produk sebagai kantong plastik. Sekitar 60 juta ton plastik ini diproduksi setiap tahunnya.
Polietilena adalah polimer yang terdiri dari rantai panjang monomer etilena (IUPAC: etena). Di industri polimer, polietilena ditulis dengan singkatan PE, perlakuan yang sama yang dilakukan oleh Polistirena (PS) dan Polipropilena (PP).
Molekul etena C2H4 adalah CH2=CH2. Dua grup CH2 bersatu dengan ikatan ganda. Polietilena dibentuk melalui proses polimerisasi dari etena. Polietilena bisa diproduksi melalu proses polimerisasi radikal, polimerisasi adisi anionik, polimerisasi ion koordinasi, atau polimerisasi adisi kationik. Setiap metode menghasilkan tipe polietilena yang berbeda.
[sunting] Sejarah
Polietilena pertama kali disintesis oleh ahli kimia Jerman bernama Hans von Pechmann yang melakukannya secara tidak sengaja pada tahun 1989 ketika sedang memanaskan diazometana. Ketika koleganya, Eugen Bamberger dan Friedrich Tschirner mencari tahu tentang substansi putih, berlilin, mereka mengetahui bahwa yang ia buat mengandung rantai panjang -CH2- dan menamakannya polimetilena.
Kegiatan sintesis polietilena secara industri pertama kali dilakukan, lagi-lagi, secara tidak sengaja, oleh Eric Fawcett dan Reginald Gibson pada tahun 1933 di fasilitas ICI di Northwich, Inggris. Ketika memperlakukan campuran etilena dan benzaldehida pada tekanan yang sangat tinggi, mereka mendapatkan substansi yang sama seperti yang didapatkan oleh Pechmann. Reaksi diinisiasi oleh keberadaan oksigen dalam reaksi sehingga sulit mereproduksinya pada saat itu. Namun, Michael Perrin, ahli kimia ICI lainnya, berhasil mensintesisnya sesuai harapan pada tahun 1935, dan pada tahun 1939 industri LDPE pertama dimulai.
[sunting] Klasifikasi
Polietilena terdiri dari berbagai jenis berdasarkan kepadatan dan percabangan molekul. Sifat mekanis dari polietilena bergantung pada tipe percabangan, struktur kristal, dan berat molekulnya.
• Polietilena bermassa molekul sangat tinggi (Ultra high molecular weight polyethylene) (UHMWPE)
• Polietilena bermassa molekul sangat rendah (Ultra low molecular weight polyethylene) (ULMWPE atau PE-WAX)
• Polietilena bermassa molekul tinggi (High molecular weight polyethylene) (HMWPE)
• Polietilena berdensitas tinggi (High density polyethylene) (HDPE)
• [[Polietilena cross-linked berdensitas tinggi]] (High density cross-linked polyethylene) (HDXLPE)
• [[Polietilena cross-linked]] (Cross-linked polyethylene) (PEX atau XLPE)
• Polietilena berdensitas menengah (Medium density polyethylene) (MDPE)
• Polietilena berdensitas rendah (Low density polyethylene) (LDPE)
• Polietilena linier berdensitas rendah (Linear low density polyethylene) (LLDPE)
• Polietilena berdensitas sangat rendah (Very low density polyethylene) (VLDPE)
UHMWPE adalah polietilena dengan massa molekul sangat tinggi, hingga jutaan. Biasanya berkisar antara 3.1 hingga 5.67 juta. Tingginya massa molekul membuat plastik ini sangat kuat, namun mengakibatkan pembentukan rantai panjang menjadi struktur kristal tidak efisien dan memiliki kepadatan lebih rendah dari pada HDPE. UHMWPE bisa dibuat dengan teknologi katalis, dan katalis Ziegler adalah yang paling umum. Karena ketahanannya terhadap penyobekan dan pemotongan serta bahan kimia, jenis plastik ini memiliki aplikasi yang luas. UHMWPE digunakan sebagai onderdil mesin pembawa kaleng dan botol, bagian yang bergerak dari mesin pemutar, roda gigi, penyambung, pelindung sisi luar, bahan anti peluru, dan sebagai implan pengganti bagian pinggang dan lutut dalam operasi.
HDPE dicirikan dengan densitas yang melebihi atau sama dengan 0.941 g/cm3. HDPE memiliki derajat rendah dalam percabangannya dan memiliki kekuatan antar molekul yang sangat tinggi dan kekuatan tensil. HDPE bisa diproduksi dengan katalis kromium/silika, katalis Ziegler-Natta, atau katalis metallocene. HDPE digunakan sebagai bahan pembuat botol susu, botol/kemasan deterjen, kemasan margarin, pipa air, dan tempat sampah.
PEX adalah polietilena dengan kepadatan menengah hingga tinggi yang memiliki sambungan cross-link pada struktur polimernya. Sifat ketahanan terhadap temperatur tingi meningkat seperti juga ketahanan terhadap bahan kimia.
MDPE dicirikan dengan densitas antara 0.926–0.940 g/cm3. MDPE bisa diproduksi dengan katalis kromium/silika, katalis Ziegler-Natta, atau katalis metallocene. MDPE memiliki ketahanan yang baik terhadap tekanan dan kejatuhan. MDPE biasa digunakan pada pipa gas.
LDPE dicirikan dengan densitas 0.910–0.940 g/cm3. LDPE memiliki derajat tinggi terhadap percabangan rantai panjang dan pendek, yang berarti tidak akan berubah menjadi struktur kristal. Ini juga mengindikasikan bahwa LDPE memiliki kekuatan antar molekul yang rendah. Ini mengakibatkan LDPE memiliki kekuatan tensil yang rendah. LDPE diproduksi dengan polimerisasi radikal bebas.
LLDPE dicirikan dengan densitas antara 0.915–0.925 g/cm3. LLDPE adalah polimer linier dengan percabangan rantai pendek dengan jumlah yang cukup signifikan. Umumnya dibuat dengan kopolimerisasi etilena dengan rantai pendek alfa-olefin (1-butena, 1-heksena, 1-oktena, dan sebagainya). LLDPE memiliki kekuatan tensil yanglebih tinggi dari LDPE, dan memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap tekanan.
VLDPE dcirikan dengan densitas 0.880–0.915 g/cm3. VLDPE adalah polimer linier dengan tingkat percabangan rantai pendek yang sangat tinggi. Umumnya dibuat dengan kopolimerisasi etilena dengan rantai pendek alfa-olefin.
[sunting] Sifat fisik
Melihat kristalinitas dan massa molekul, titik leleh, dan transisi gelas sulit melihat sifat fisik polietilena. Temperatur titik tersebut sangat bervariasi bergantung pada tipe polietilena. Pada tingkat komersil, polietilena berdensitas menengah dan tinggi, titik lelehnya berkisar 120oC hingga 135oC. Titik leleh polietilena berdensitas rendah berkisar 105oC hingga 115oC.
Kebanyakan LDPE, MDPE, dan HDPE mempunyai tingkat resistansi kimia yang sangat baikdan tidak larut pada temperatur ruang karena sifat kristalinitas mereka. Polietilena umumnya bisa dilarutkan pada temperatur yang tinggi dalam hidrokarbon aromatik seperti toluena atau xilena, atau larutan terklorinasi seperti trikloroetana atau triklorobenzena.
[sunting] Masalah lingkungan
Penggunaan polietilena yang sangat luas menjadi masalah lingkungan yang amat serius. Polietilena dikategorikan sebagai sampah yang sulit didegradasi oleh alam, membutuhkan waktu ratusan tahun bagi alam untuk mendegradasinya secara efisien.
Pada bulan Mei tahun 2008, Daniel Burd, remaja Kanada berusia 16 tahun, memenangkan Canada-Wide Science Fair di Ottawa setelah menemukan Sphingomonas, tipe bakteri yang mampu mendegradasi polietilena. Bersama bakteri Pseudomonas, bakteri itu mampu mendegradasi lebih cepat.

Bahaya Mengintip di Balik Pemakaian Plastik

TPG IMAGES
Artikel Terkait:

Kamis, 23 Oktober 2008 | 14:51 WIB
KITA tentu tak asing dengan berbagai kemasan berbalut plastik. Hampir semua barang-barang yang ada di sekeliling kita tak lepas dari bahan bernama plastik ini. Mulai dari mainan anak, alat-alat rumah tangga, alat kantor, sampai benda-benda elektronik berbungkus plastik.
Salah satu alasan pemakaian plastik tentu tak lepas dari berbagai kelebihannya. Meski ringan, plastik tak berkarat, mudah dibentuk, dan tidak gampang pecah. Semua ini membuat plastik lebih praktis ketimbang bahan tradisional yang membutuhkan perawatan khusus.
Tak hanya itu, plastik juga relatif murah dan terkenal gaul dengan bahan lain. Artinya, bahan ini mudah bercampur dengan aneka bahan pewarna. Sudah begitu. Alhasil, banyak orang terpikat pada plastik dengan keanekaan bentuk dan warnanya.
Dengan berbagai kelebihan itu, tak heran jika plastik kini menjadi pilihan utama untuk membungkus aneka produk.
Sejarah plastik sangat panjang. Yang jelas, pemakaian bahan ini makin tak terbendung setelah Perang Dunia II. Bahkan, selama dua dasawarsa terakhir ini, pasar plastik mampu menyaingi pasar pangan di dunia. Maklum, makanan membutuhkan kemasan atau bungkus yang kini sebagian besar dari plastik.

Direktur Eksekutif Federasi Pengemasan Indonesia Hengky Wibowo mengungkapkan, besarnya pengunaan plastik tak lepas dari kebutuhan warga dunia yang ingin serba praktis. "Plastik jelas lebih praktis dan bahan lama dibandingkan tempat makanan tradisional seperti daun," tandas Hengky.
Namun, di balik kepraktisan itu ada bahaya mengintip di balik pemakaian plastik. Setidaknya, ada dua bahaya plastik. Pertama, plastik akan menjadi sampah yang sulit terurai. "Plastik yang adalah produk non-biodegrable sulit untuk diuraikan," pasar Ahli Teknologi Pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Hartoyo.
Asal tahu saja, limbah plastik baru bisa terurai setelah 1.000 tahun. Bandingkan dengan limbah kertas yang membutuhkan waktu sebulan untuk terurai. Kedua, plastik mengandung bahan kimia yang berbahaya, yakni Bisphenol A alias BPA. Bahan kimia ini bisa merangsang pertumbuhan sel kanker serta memperbesar risiko keguguran pada ibu hamil.
Monomer mudah terlepas
Singkatnya, tak hanya bisa mencemari lingkungan, plastik jelas jugaberpotensi mengancam kesehatan kita. Boleh jadi kedua bahaya ini lah yang membuat banyak negara kini mulai mengurangi penggunaan plastik.
Ambil contoh China. Sejak 1 Juni 2008 lalu, pemerfntah China mewajibkan warganya membungkus barang belanjaan dengan kertas. Kecemasan pemerintah Negeri Tembok Raksasa ini cukup beralasan. Sebab, penelitian di negeri itu menunjukkan bahwa penggunaan kemasan plastik untuk makanan dan minuman dapat mengganggu kekebalan tubuh manusia.
Penyebab gangguan kekebalan tubuh itu adalah kandungan dioksin dan zat beracun pada lapisan penyusun plastik yang rusak alias monomer.
Suhu penyimpanan dan proses pencucian wadah yang tidak tepat dapat menyebabkan perpindahan dan kerusakan monomer serta zat adiktif yang biasa dicampurkan saat pembuatan plastik. Inilah yang bisa merusak kekebalan tubuh. Pada tingkat yang berbahaya, zat beracun pada plastik itu dapat memicu berkembangnya sel kanker.
Itu belum seberapa lantaran produsen plastik umumnya menambahkan zat pewarna dan berbagai zat lain yang berbahaya bagi kesehatan.
Kata Arif, plastik sejatinya tidak tahan panas. Tapi dengan berbagai tambahan seperti zat antilengket, bahan sinar dan panas, plastik menjadi sangat kuat.
Tapi, berbagi goresan dan panas tinggi perlahan bisa membuat bahan-bahan pembuat plastik itu terlepas. "Nah kalau berulang dipakai untuk menyimpan makanan atau minuman, zat yang terlepas ini lama-lama bisa menimbulkan kanker," papar Arif.
Zat beracun atau monomer itu semakin lama akan menumpuk dalam tubuh lantaran proses penyimpanan makanan atau proses memasak yang terlalu lama. Dalam hitungan ahli pangan, monomer plastik akan terurai pada suhu di atas 120 derajat.
Karena itu, Henky mengingatkan pangan sembarangan menggunakan kantong plastik berwarna hitam menyimpan makanan atau minuman panas. Soalnya, kantong plastik hitam umumnya terbuat dari bahan daur ulang dengan campuran tinta sablon. "Ini sangat berpotensi menimbulkan kanker," ujarnya.
Zat penyusun plastik yang perlu dihindari antara lain vinilklorida, akrilonitril, metacrylonitril, vinylidene chlorida, serta styrene. Vinilklorida misalnya, dapat bereaksi negatif bila bercampur dengan guanin dan sitosin dapat merusak DNA. Adapun akrilanitril bereaksi dengan adenin bisa menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan seperti mulut, tenggorokan, dap lambung.
Sementara zat adiktif seperti plasticizer, stabilizer, dan antioksidan dapat menjadi sumber pencemaran organoleptik yang membuat makanan menjadi berubah rasa dap aroma serta bisa menimbulkan keracunan.
Pada suhu kamar, dengan waktu kontak cukup lama, zat adiktif pada plastik juga masuk secara bebas ke makanan. Akibatnya, kanker pun menjadi ancaman dalam kehidupan kita. (Adi Wikanto,Novrida Manurung)


DIPERKIRAKAN, 500 juta hingga satu miliar kantong plastik digunakan di dunia tiap tahunnya. Jika sampah-sampah ini dibentangkan, dapat membungkus permukaan bumi setidaknya hingga 10 kali lipat! Di Bandung sendiri, volume sampah plastik per harinya mencapai 700 meter kubik. Bisa menutupi 50 lapangan sepakbola sekaligus!
Yang jadi persoalan, dampak negatif sampah plastik ternyata sebesar fungsinya. Di alam, sampah plastik berbahan konvensional dari polimer sintetik tidak mudah terurai oleh organisme. Dibutuhkan waktu 300-500 tahun agar bisa terdekomposisi atau terurai sempurna. Sebuah waktu yang sangat lama. Akibatnya, di banyak tempat, plastik menjadi sumber masalah. Menyumbat saluran air, tanggul, sehingga mengakibatkan banjir bahkan yang terparah merusak turbin waduk.
Dampak negatif kantong plastik atau ”tes kresek” terhadap kesehatan tidak kalah mengerikan. Berdasarkan penelitian I Made Arcana, dosen kimia Institut Teknologi Bandung, zat pewarna hitam yang umumnya ada di kantong plastik berbahaya bagi kesehatan. Zat ini kalau terkenas panas dapat terdegrasi dan mengeluarkan zat yang menjadi salah satu pemicu kanker. Maka, dianjurkan tidak menaruh gorengan atau makanan panas lainnya langsung di kantong plastik.
Lantas, apa solusinya mengatasi persoalan kantong plastik? Yang pasti, jangan pernah mencoba membakarnya. Jika proses pembakarannya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin. Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, dan memicu depresi.
Seperti diungkapkan angggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPLKTS) Sobirin, pengolahan sampah menjadi solusi terbaik. Jika rumah tangga atau komunitas terkecil di lingkungan belum bisa mengolahnya, didaur ulang, maka pemilahan menjadi langkah kecil terbaik.
”Jika memang belum bisa, apa ya terpaksa gali kembali kearifan lokal macam penggunaan pincuk (daun pisang)?", ucapnya.
Dilarang di China dan Australia
Keprihatinan Sobirin sangatlah beralasan. Menurut dia, di Indonesia, tidak lebih 10 persen warga yang peduli lingkungan. Apalagi, peduli terhadap dampak negatif sampah plastik. Meski demikian, ia optimis, melalui edukasi, sosialisasi, dan kampanye, masyarakat lambat laun akan tergugah. Ini tidak terlepas dari pentingnya peranan pemerintah.
”Wali Kota Bandung misalnya, perlu mendukung lewat kebijakan pelarangan penggunaan kantong plastik di supermarket,” ungkapnya.
Di negara maju, kampanye penggunaan kantung plastik mendapat dukungan dari negara. Salah satunya, China. Mulai Juni 2008 ini, seluruh supermarket dan toko-toko di Cina dilarang memberikan kantung plastik gratis kepada konsumen. Pembeli dianjurkan memakai keranjang sebagai pengganti. Namun, hebatnya, sinergi dengan hal itu, berbagai industri polimer di China gencar mengembangkan plastik biodegradable (dapat terurai).
Banyak jenis polylaktida (plastik berbahan dasar selulosa) dikembangkan. Salah satunya yaitu ”SmartPlast Bag” yang berlogo ramah lingkungan. Plastik berpenampilan layaknya keresek normal berwarna putih ini terbuat dari tajin jagung. Di alam, plastik ini dapat terurai hanya dalam waktu setengah tahun tanpa dampak negatif apa pun. Langkah ini diikuti di Australia.
Lantas, bagaimana dengan Indonesia, khususnya Kota Bandung? Terlalu naïf jika mengharapkan hal yang sama dengan Australia dan China. Namun, sinyalemen positif mulai ditunjukkan sejumlah pelaku usaha di Bandung. Di Carrefour, saat ini disediakan tas belanja khusus pengganti kresek. Harganya Rp 10.000 per kantong. Kalau rusak, bisa ditukarkan.
Terlepas dari upaya itu, seperti diungkapkan novelis Dewi Lestari, semuanya akan berpulang kepada individu manusia. Kesadaran diri-lah yang menentukan. Lingkungan, satu-satunya aspek di dunia yang bisa menyatukan berbagai latarbelakang manusia dan negara. Mari bersatu menyelamatkan ”rumah” kita.

Kumpulan Teka-teki & Tebakan Lucu buat Humor
Juni 20, 2009 — muslimshare
Teka-teki atau tebakan lucu yang sarat humor sering kita dengar sehari-hari. Dan, itu bisa membuat pikiran fresh. Ya, humor itu memang perlu. Nah, berikut kumpulan teka-teki atau tebakan lucu. Lumayan buat menghibur diri, terutama yang lagi bete. Dan, selamat tertawahahaha…!
1. Kenapa anak kodok suka loncat-loncat?
Yach..namanya juga anak-anak.
2. Bebek apa yang jalannya muter ke kiri terus?
Bebek dikunci stang.
3. Kenapa bebek goreng rasanya enak?
Karena ada huruf ‘B’ nya. Coba kalo nggak ada, siapa yang berani makan?
4. Kalau semua jenis hewan sekolah, siapa yang sering terlambat?
Kluwing (kaki seribu). Soalnya, kakinya banyak, jadinya kalau pakai sepatu kelamaan.
5. Hitam, putih, merah, apakah itu?
Zebra abis dikerokin.
6. Apa bedanya kucing ama kucring?
Kalo kucing kakinya empat, kalo kucring kakinya emprat.
7. Apa beda soto ama coto.
Soto dari daging sapi, coto dari daging capi.
8. Kenapa Superman bajunya pake huruf S?
Karena kalau pake M atau L kegedean.
9. Kenapa di dalam bajaj nggak ada nyamuk?
Karena nyamuk sini cuma takut tiga roda.
10. Siapa wanita Indonesia yang paling kuat?
Nyonya Meneer, berdiri sejak tahun 1918.
11. Kenapa kalo lagi mikir orang suka megang jidatnya?
Ya iyalah, masak megang jidat orang lain!
12. Dalam abjad ada berapa huruf?
Ada 5: a-b-j-a-d.
13. Kentang apa yang bisa bikin bayi ketawa?
Kentangtingtungtingtangtingtung
14. Bagaimana cara yang paling cepat menggemukkan badan?
Masuk ke sarang lebah!
15. Apa beda matahari sama bulan?
Matahari ada diskon, bulan nggak ada.
16. Apa perbedaan antara apel dan upil?
Kalau apel ditaruh di atas meja. Kalau upil dioles di bawah meja.
17. Apa perbedaan rok dengan roket?
Roket makin ke atas makin nggak kelihatan, kalau rok makin ke atas makin kelihatan.
18. Manusia pertama yang mendarat di bulan adalah Neil Amstrong. Trus, hewan apa yang pertama kali nyampe di bulan?
Burungnya Neil Amstrong.
19. Kenapa di keyboard komputer ada tulisan ENTER?
Karena kalo tulisannya ENTAR, programnya ‘ngga jalan-jalan.
20. Apa persaman goreng ikan gosong dan perempuan bisa hamil?
Karena kelamaan ngangkat.
21. Ikan apa yang suka mencuri?
Ikan lohan. Liat aja kepalanya sampe benjol dihajar massa.
22. Daun apa yang nggak boleh disentuh?
Daun touch..!
21. Apa beda Megi Z sama tukang sayur?
Kalo Megi Z teriak ‘teganya-teganya’, kalo tukang sayur ‘togenya-togenya’.
22. Binatang apa yang paling panjang?
Ular ngantri beras.(hehe…)
udah nga


Yuk Kenali Plastik di Sekitar Kita, Bahaya Nggak Yah?
Juli 28, 2009 — muslimshare
Plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui di hampir setiap barang. Mulai dari botol minum, TV, kulkas, pipa pralon, plastik laminating, gigi palsu, compact disk (CD), kutex (pembersih kuku), mobil, mesin, alat-alat militer hingga pestisida.
Oleh karena itu kita bisa hampir dipastikan pernah menggunakan dan memiliki barang-barang yang mengandung Bisphenol-A. Salah satu barang yang memakai plastik dan mengandung Bisphenol A adalah industri makanan dan minuman sebagai tempat penyimpan makanan, plastik penutup makanan, botol air mineral, dan botol bayi walaupun sekarang sudah ada botol bayi dan penyimpan makanan yang tidak mengandung Bisphenol A sehingga aman untuk dipakai makan. Satu tes membuktikan 95% orang pernah memakai barang mengandung Bisphenol-A.
Plastik dipakai karena ringan, tidak mudah pecah, dan murah. Akan tetapi plastik juga beresiko terhadap lingkungan dan kesehatan keluarga kita. Oleh karena itu kita harus mengerti plastik-plastik yang aman untuk kita pakai.
Apakah arti dari simbol-simbol yang kita temui pada berbagai produk plastik?

Yuk, sama-sama kita pelajari….. Check this out!!!
1. PETE atau PET (polyethylene terephthalate)
Kode Produk:

Kegunaan:
Biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya.
Peringatan:
• Boto-botol dengan bahan #1 direkomendasikan hanya untuk sekali pakai.
• Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas.
• Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.
2. HDPE (high density polyethylene)
Kode Produk:

Kegunaan:
Biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu.
informasi tambahan dari http://www.distributorplastik.com/belajar-plastik/artikel/
Produk ini terbuat dari bahan plastik anti-panas. Biasanya plastik jenis ini dipakai untuk membungkus cairan panas / kuah / soup dari makanan yang akan dibawa pulang pelanggan. Selain itu plastik HDPE juga bisa dibuat menjadi Shopping Bag dalam bentuk kantong kresek maupun kantong plastik dengan handle / pegangan.kenapa disebut juga kantong kresek .karena plastik hdpe ini. jika bersinggungan/kegesek akan berbunyi kresek kresek.
Peringatan:
• Boto-botol dengan bahan #1 direkomendasikan hanya untuk sekali pakai.
• Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas.
• Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.
3. V atau PVC (polyvinyl chloride)
Kode Produk:

Adalah plastik yang paling sulit di daur ulang.
Kegunaan:
Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol.
Peringatan:
Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.
4. LDPE (low density polyethylene)
Kode Produk:

Kegunaan:
Biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek.
Peringatan:
• Barang-barang dengan kode #4 dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat.
• Barang dengan #4 bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.
5. PP (polypropylene)
Kode Produk:

Kegunaan:
Pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan.
Peringatan:
• Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.
6. PS (polystyrene)
Kode Produk:

Kegunaan:
Biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoamcup, box, tray daging, carton telor, tempat minum sekali pakai, dll.
Peringatan:
• Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan.
• Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf.
• Selain tempat makanan, styrine juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung.
• Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara Cina
7. Other (biasanya polycarbonate)
Kode Produk:

Kegunaan:
Bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga.
Peringatan:
• Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon.
• Hindari bahan plastik Polycarbonate.
Masih banyak sekali barang plastik yang tidak mencantumkan simbol-simbol ini, terutama barang plastik buatan lokal di Indonesia. Oleh karena itu, kalau anda ragu lebih baik tidak membeli. Kalaupun barang bersimbol lebih mahal, harga tersebut lebih berharga dibandingkan kesehatan keluarga kita.
Pada akhirnya. Hindari penggunaan plastik apapun di Microwave. Gunakan bahan keramik, gelas atau pyrex sebagai gantinya.
Hindari juga membuang sampah plastik terutama yang mengandung Bisphenol-A sembarangan karena bahan tersebut pun bisa mencemari air tanah yang pada akhirnya pun bisa mencemari air minum banyak orang.
Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua, mari kita jaga kesehatan kita dan lingkungan kita.
Ditulis dalam Chemical Engineering. Tag: kenali plastik anda, kerugian plastik, pengantar plastik, plastik PP, plastik PVC, sejarah plastik, simbol-simbol pada plastik. 4 Komentar »




Jumat, 15 Januari 2010

Mesin Sekrap

Mesin Sekrap..?? Hmm.. apa ya? apa semacam mesin bubut gitu..? bagi orang awam mungkin yang mereka yahu just mesin auto mobile kayak milik honda atau yamaha gitu.
Daripada nglantur, langsung ajjah deh disantap hidangan ini...

MESIN SKRAP
Diposkan oleh romadhon ashari di 20:08 . Jumat, 2009 April 17

1. Mesin Sekrap


Mesin sekrap atau shaping machine adalah suatu mesin perkakas yang digunakan untuk mengubah permukaan benda kerja menjadi permukaan rata baik bertingkat, menyudut, dan alur. Sesuai dengan bentuk dan ukuran yang dikehendaki. Mesin sekrap yang ada di workshop produksi pemesinan jurusan Teknik Mesin FT – UNP, adalah tipe ONAK L - 350.

Prinsip Kerja Mesin Sekrap
Mesin sekrap dapat dipakai untuk mengerjakan benda kerja sampai sepanjang 800 mm, berpegang pada prinsip gerakkan mendatar. Pada langkah pemakanan akan menghasilkan beram (tatal logam) dari benda kerja, panjang langkah diatur dengan mengubah jalan keliling pasak engkol pada roda gigi penggerak, karenanya menambah atau mengurangi ayunan engkol, pemindahan ini diatur dengan memutar poros pengatur langkah yang akan memutar roda gigi kerucut dan menggerakan batang berulir yang mengatur penggerak blok engkol.

Fungsi dan cara kerja masing-masing bagian pada mesin sekrap
Rangka
Menurut fungsinya, maka rangka ini merupakan panyangga dari seluruh bagian dalam mesin sekrap, oleh karenanya konstruksinya pun dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat menampung bagian-bagian lainnya. Rangka ini terbuat dari baja. Seperti gambar.

Mekanik Penjalan
Umumnya mesin-mesin sekrap dijalankan oleh motor yang ditempatkan dibagian belakang, melalui belt berbentuk V ke pully atau ke lemari roda - roda gigi. Dari roda-roda gigi melalui eksentrik ke alur engkol yang berayun dan dihubungkan ke lengan. Alur engkol yang berayun terdiri dari sebuah cakra engkol dengan tap yang dapat diatur, sebuah blok tirus, tuas alur, dan batang penggerak. Untuk mengatur sesuai dengan yang dikehendaki dari langkah lengan, dapat distel dengan memindah-mindahkan tap pengatur. Seperti gambar dibawah ini:

dimana :
M = Titik putar alur engkol
T = Tap alur engkol yang dapat distel
D = diameter lingkaran engkol
h = Panjang langkah gerak lengan

Lengan dan eretan pahat
Bagian ini merupakan gabungan antara lengan dengan eretan pahat, dimana eretan pahat tersebut diikatkan langsung pada lengan. Bersama-bersama melakukan gerak langkah, lengan yang diikat pada alur engkol melaksanakan perubahan gerak dari gerak putar menjadi gerak lurus, yang diteruskan ke pahat melalui eretan pahat dan pemegang pahat. Seperti gambar dibawah ini:

Ereatan pahat ini juga digunakan untuk mengatur naik turunnya pahat dalam penyayatannya. Untuk menyayat bidang-bidang tegak yang bersudut, eretan pahat dapat diatur kedudukannya sesuai dengan sudut yang diinginkan.
Meja sekrap
Meja gunanya untuk menyangga ragum pengikat benda kerja dan juga mempunyai gerak penjalan vertikal dan gerak penjalan lintang secara otomatis, dapat mengatur rendahnya benda kerja dan teraturnya penyayatan, Dengan demikian memberikan posisi mendatar kepada benda kerja pada waktu menyekrap. Seperti gambar dibawah ini:

Dasar pekerjaan menyekrap
Mesin sekrap menghasilkan permukaan-permukaan yang datar hal ini dicapai oleh pahat yang bergerak horizontal kedepan dengan benda kerja dibawahnya tegak lurus padanya, Benda kerja tetap diam pada waktu pahat menyayat dan berpindah pada langkah balik pahat. Sedangkan penyelesaian akhir tergantung pada bentuk pahat, kecepatan pahat (tergantung pada jenis logam yang disekrap) dan penerapan cairan pendingin yang tepat
Beberapa cara pengerjaan sekrap antara lain adalah:
a. Sekrap datar
Yang dimaksud dengan menyekrap datar adalah bahwa gerak menyayatnya kearah mendatar dari kiri ke kanan atau dari kanan ke kiri, arah gerakan pahat tersebut tergantung pada posisi pahat atau dari bentuk sudut-sudut bebasnya, jika pahat tersebut berbentuk pahat kanan maka penyayatannya dimulai dari sebelah kanan ke kiri dan sebaliknya.
b. Sekrap Tegak
Dalam menyekrap tegak maka gerak penyayatannya pahat berlangsung dari atas ke arah bawah secara tegak lurus, dalam hal ini pergerakkan sayatan pahat dilakukan dengan memutar eretan pahat dengan tangan. Tebal pemakanan hendaknya tipis saja ± 0,5 mm
c. Sekrap Sudut
Jika menyekrap bagian yang menyudut maka gerak penyayatannya di lakukan dengan memutar eretan pahat yang kedudukannya menyudut sesuai dengan besarnya sudut yang di sekrap.
d. Sekrap Alur
Alur yang dapat disekrap adalah alur terus luar, alur terus dalam, alur buntu dan alur tembus.

Beberapa bagian mesin yang perlu dilakukan perawatan dan perbaikan
Hal yang perlu dijaga dalam perawatan dan perbaikan mesin yaitu disamping menyeluruh juga bagian-bagian dari mesin tersebut antara lain:
Bagian yang selalu bergerak yang memerlukan pelumasan baik dengan minyak maupun gemuk harus diperiksa agar jalannya tidak macet.
Bagian-bagian pengikat seperti pemegang pahat, suport, ragum dan semua tuas-tuas (handle) pada waktu mengencangkan / mengikat usahakan dengan tangan jangan sekali-kali dipukul.
Hubungan kabel-kabel dari kontak induk (zekring) ke motor harus terjamin keselamatannya dan instalasi kelistrikan atau kabel- kabel tersebut sebaiknya ditanam didalam tanah.
Periksa semua mur- mur pengikat jangan sampai ada yang longgar.
Jangan menurunkan pahat pada waktu langkah maju.
Memakan sayatan sesuaikan dengan daftar dalamnya pemakanan pahat dan kecepatan potong.

C. Perawatan mesin
Pengertian Perawatan
Perawatan adalah suatu aktivitas yang dilaksanakan untuk memelihara semua fasilitas/peralatan bengkel agar selalu dalam kondisi baik dan siap pakai serta terhindar dari kerusakan yang mungkin terjadi baik yang terduga maupun yang tak terduga (makhzu, 1999)
Berdasarkan kondisi mesin maka teknik perawatan dikelompokkan pada:
Perawatan Preventif / Pencegahan
Adalah perawatan yang dilakukan terhadap mesin guna mencegah terjadinya kerusakan atau kemacetan pada saat diperjalanan dari pabrik ke tempat pemakai dan selama mesin dipakai. Teknik perawatan ini umumnya dilakukan pada mesin yang kondisinya masih baru dan baik (belum pernah rusak).
Perawatan Korektif / Pembetulan
Adalah perawatan yang dilakukan terhadap mesin yang mengalami gangguan kerusakan baik kerusakan kecil maupun kerusakan sedang.

Perawatan berat / over houl
Adalah perawatan yang dilakukan terhadap mesin yang mengalami banyak kerusakan pada komponen-komponen utamanya. Sehingga hasil ukurannya jauh menyimpang dari ukuran standar.
Perawatan Tersencana
Adalah perawatan yang dilakukan terhadap mesin yang dibuat secara sistematis dan terencana sebelum mesin digunakan atau dipakai.

Teknik Perawatan Mesin
Perawatan yang intensif sangat membantu untuk menjaga peralatan mesin selalu dalam kondisi siap pakai, terutama jika perawatannya dilakukan secara rutin dan benar
Penggunaan sistem perawatan yang terjadwal baik akan menjaga peralatan atau mesin bisa bekerja secara maksimal atau produktifitasnya maksimal atau produksinya memuaskan.
Beberapa tujuan perawatan terhadap peralatan atau mesin antara lain :
Merawat mesin atau peralatan sehingga selalu dalam kondisi optimal produktifitasnya dan dapat dipercaya kualitas produksinya
Mencegah hal – hal yang diharapkan seperti kerusakan yang tiba – tiba terhadap mesin / peralatan pada saat beroperasi.
Menaikkan kemampuan mesin untuk berproduksi dengan melakukan perubahan untuk lebih mengefisienkan kerja mesin.
Tujuan-tujuan yang diatas dapat dicapai apabila dilakukan dua bentuk perawatan yaitu:
Perawatan rutin atau harian yang dilakukan selama jangka waktu perawatan yang sudah terjadwal tetapi perawatan hendaknya tidak saja hanya dilakukan pada yang terjadwal, sebaiknya dilakukan setiap saat.
Yang dilaksanakan dalam perawatan harian adalah :
­Sebelum memakai mesin jangan lupa memberikan oli pada katup – katup oli
Mengontrol gelas ukuran oli, apakah permukaan oli sudah sesuai dengan petunjuk mesin sekrap.
Sebelum memakai mesin, harus dibersihkan dahulu
Diharapkan dalam mengoperasikan mesin harus menurut petunjuk yang benar, misalnya putaran yang sesuai pembebanan, banyaknya pemakaian dan sebagainya.

Perawatan dan perbaikan yang terjadwal, yang terdiri dari perbaikan ringan, perbaikan menengah, perbaikan besar-besaran.


BAB III
Kondisi awal mesin sekrap onak L - 350 No. M3 2404
1. Bronce kopling (bantalan peluncur)
Bantalan kopling ini merupakan suatu komponen yang ada pada mesin sekrap untuk pengereman atau untuk mematikan mesin sekrap secara langsung atau mendadak. Beberpa hal yang membuat bronce kopling (bantalan peluncur) ini tidak berfungsi dengan baik diantaranya adalah:
a. Terjadinya kehausan pada bantalan kopling terlalu lama pemkaiannya tanpa diperiksa dan dirawat.
b. Pemberian pelumasan yang kurang terhadap bantalan kopling.
2. handle pemegang
Pada bagian ini kebanayakan handle yang ada pada patah dikarena akan sewaktu pemkaian tidak hati-hati dan ceroboh.

Belt
Suatu alat pemindah daya yang cukup sederhana adalah belt yang terpasang secara kuat pada dua buah pulley, Yaitu pulley penggerak dan pulley yang digerakkan. Prinsip pemindah daya sisini adalah dengan mengandalakan gesekan antara belt antara belt dengan pulley. Belt yang umum digunakan untuk prmindah daya, di bedakan atas dua macam yaitu:
a. Belt datar (flat belt), dengan penampang melintang segi empat.
b. Belt V (V belt), dengan penampang melintag terbentuk
trapesium.
pada mesin sekrap ini belt yang digunakan adalah belt V. hal-hal yang membuat belt harus diganti diantaranya adalah:
1. belt sudah putus karena pemakaian yang sudah lama.
2. pulley yang bergerak yang dan pulley yang digerkkan tidak sejajar yang . membuat belt cepat haus dan putus

4.Roda gigi
Roda gigi ini berbentuk seperti roda gigi yang gunanya untuk mengtur gerk lintang meja secara otomatis. Roda pal dapat berputar kekiri atau kekanan, bergantung pada letaknya pena. Bila pena dimasukkan menarik roda pal kekanan meja bergeser otomatis kekanan, jika pena dimasukkan menarik roda pal kekiri, maka akan bergeser kekiri dan jika pena bertahan diatas dan berada dalam kedudukan netral (tidak menarik pada pal) maka meja tidak bergeser kedudukan ini digunakan pada waktu meja digeser dengan engkol. Kerusakan-kerusakan yang tejadi pada roda ini diantaranya adalah:
a. Pena yang tumpul akibat sewaktu otomatis berfungsi atau digunakan diputar secara manual dengan menggunakan engkolpemutar.
b. Roda pal yang patah dan haus.
c. Pegas yang tidak berfungsi dangan baik.
5.Roker arm (mekanisme enkol balik cepat)
Sebuah engkol putar yang digerakan pada kecepatan seragam, dihubungkan kepada lengan osilasi yang agak pejal, engkolnya dimasukkan kedalam roda gigi besar dapat diubah-ubah dengan mekanisme ulir. Uantuk mengubah kedudukan langkah. Maka apitan yang memegang penyambung ke ulir ram dikendorkan., dan pemberi kedudukan ram diputar. Dengam memutar ulir pengatur kedudukan,dapat digerakkan mundur atau meja untuk menempatan kedudukan potong.
Bahwa langkah potong mengambil 220 dari putaran engkol sedangkan lagkah sebliknya hanya dilakukan 140 maka perbandingannya langkah potong =………. ………
Terjadi balik cepat karena ujung engkol dengan titik tumpu lengan. Kerusakan terjadi pada roker drm adlah ulir dalam eksentrik yang patah dan haus.
6.Perawatan yang kurang dilakukan secara rutin
Perawatan sangat penting dalam sebuah mesin karena tanpa perawatan yang baik suatu mesin akan cepat rusak . Akibat dari kurangnya perawatan suatu mesin adalah:
Mesin cepat rusak, haus serta suara mesin terasa bising.
c.Rencana perbaikan sekrap ONAK L – 350 No M3 2404

1. Bantalan kopling
a. karena sudah terlalu lama pemakaianya maka bantalan daganti dan dibuat kedudukanyang baru.
b. pemberian pelumasan yang kurang akan menyebabkan bantalan kopling cepat haus maka setiap kali pemkaianya harus diperiksa pelumasan bila kurang harus ditambah
2. Belt
a. Belt sudah putus, maka dibeli belt yang baru dengan tipe yang sama.
b. pulley yang bergerak dan pulley yang digerakkan tidak sejajar yang membuat belt cepat haus dan putus, maka sejajarkan posisi dari pulley yang bergaerak dan pulley yang digerakkan agar utaran tidak tersendat atau mecet.
3. Handle pemegang
Pemegang handle pemegang ini kami tidak membuatnya dari bahan besi atau alumaniuam karena pemegang ini berkontak langsuang dengan arus listrik atau stop kontak jadi kami membelinya.
4.Roda pal
a. pena yang tumpul akibat sewaktu otomatis digunakan diputar secara paksa dangan engkol, maka ddibuat baru agar dapat berfungsi dengan baik.
b. Roda pal yang patah dan haus, maka roda pal ini diganti dengan yang baru dan jumlah gigi yang sama dengan roda pal yang lama.
c. pegas yang tidak berfungsi dengan baik, maka diganti dengan pegas yang lebih baik dari pada sebelumnya agar saat otomatis digunakan pegas berfungsi dengan baik.
5. Roker arm (mekanisme engkol bak cepat)
Ulir dalam eksentrik yang patah dan haus, maka ulir dalam harus dibuat dan diberikan pelumas agar tidak haus.
6.Perawatan yang karena dilakukan secara rutin
a. secara mesin tersa bising, mesin dapat rusak dan haus. Maka harus diberikan pelumasan yan tidak teratur dan perawatan secara rutin.



B. Teknik perawatan
1. Pengertian perawatan
Perawatan adalah suatu aktivitas yang dialaksanakan untuk memelihara semua fasilaitas/peralatan labor dan bengkel agar dalam selalu dalam kondisi baik dan siap pakai serta terhindar dari kerusakan yang mungkin terjadi baik yang terduga maupun tak terduga (makhzu, 1999 ). Usaha ini tidak terlepas dari cakupan pekerjaan bagian perawatan, seperti hal nya pada bengkel atau labor pada perusahaan yang besar. Pekerjaan maintenance dikelola oleh suatu bagian yang disebut dengan Maintenance Departement dan ini berarti bahwa bagian perawatan mempunyai peranan atau fungsi yang sama pentingnya dengan bagian lain yang ada dalam suatu perusahaan.
Berpedoman pada daya guna detiap fasilitas peralatan yang mempunyai masa pakai terbatas dan tidak ada peralatan mesin yang mampu menjalankan fungsinya untuk selama- lamanya, bahkan pada waktu tertentu secara berkala ada bagian atau parts dari peralatan mesin yang harus mendapat pelanyanan perwatan.
Menurut catatan kuliah dengan makhzu (1999), aktifitas perawatan fasilitas/perawatan bengkel dan labor dapat dikelompokkan atas 2 macam yaitu perawatan preventif dan perawatan korektif.
1.Perawatan Preventif
Perawatan preventif yang dilakukan terhadap mesin yang dalam keadaan baik/jalan.
Tujuan dari perawatan tersebut adalah untuk mencegah terjadinya kerusakan mesin komponennya dan bahan yang telah habid masa pakai. Menjaga mesinm agar kualitas produknya selalu memenuhi standar serta ukuran yang dimintai dan mendeteksi secara dini/awal kemungkinan kerusakan yang akan terjadi dari mesin.
Tanda-tanda atau kondisi mesin yang memerlukan perawatan preventif adalh :
Mesin dalam keadaan baik atau jalan
SEMUA KOMPONEN berfungdi dengan baik.
Hasil produk dapat memenuhi standar yang ditentukan
Kecendrungan tindakan perawatan Preventif lebih banyak pada komponen tranmisi.
Tindakan-tindakan preventif yang dapat dilakukan adalah :
1. Pemeriksaan
2. Pembersihan
3. Pelumasan
4. Penggantian komonen
5. Penguncian
6. Penyetelan.
Untuk memudahkan perawatan diantara preventif dibuat program perawatan secara :

-Memeriksa kondisi mesin dan kompenennya sebelum dipakai
-Membersihkan mesin sebelum dipakai.
-Memberi oli permukaan yang brgerak, yang diberikan tanda lingkaran bola baja.
-Memberi oli permukaan komponen yang saling bergerak dan bergesek.
-Menggunci dan membuat mur/baut pengikat.
-Menyetel posisi komponen dan keulesan geraknya seperti gerakan eretan meja,spindle,lengan.
-Semua program perawatan rutin dijalankan setiap hari oleh pemkai/ operator mesin.
2. program perwatan preventif secara preodik, program tersebut seperti:
a. Memeriksa kondisi komponen dan member oli seperti:
1. Bantalan
2. Ulir penggerak/ pengangkatan
3. roda gigi pangganti
b. Mengganti komponen/ bahan yang telah habis masa pakai seperti:
1. Oli bak roda gigi setelah 6000 jam dipakai
2. Bantalan setalah 22000 jam dipakai
3. Mengganti ban setelah kedaan mengeras/pecah
3. perawatan korektif
Perwatan korektie yaitu perawatan yang dilakukan terhadap mesin yang mengalami gangguan/kerusakan. Kondisi mesin yang mamarlukan perawatan korektif adalah rusak/tidak jalan pada bagian komponen utama (transmisi).
Pelaksanaan ini dilakukan pada saat mesin berhenti/stop, tujuan pada dari perawatan korektif adalah memperbaiki dan memebetulkan atau mengganti komponen yang rusak srrt mengembalikakan mesin dalam keadaan baik atau jalan dan siap pakai. Srta menjadikan mesin yang mampu menghasilkan produksi yang mamanuhi kulitas standar.
Tindakn perwatan korektie yang harus dilakukan sebagai berikut:
Pemeriksaan
Memeriksa dan memastikan kerusakankomponen secara manual dan dengan alat.
Membuat rencana perbaikan
Menulis rencana atau prosedur pelaksnaan perawatan yang mencakup tindakan perbaikan, tenaga kerja, bahan dan alat yang diperlukan. Teknik parbaikan (pembetulan, pembuatan dan penggantian) dan biaya perbajkan.
Pembongkaran
Membongkar komponen/komponen yang terkait dengan dengan komponen yang rusak srcara berurutan mulai dari komponen baik sampaj ke rusak.
Memeriksa dan memperbaiki, mengganti komponen yang rusak
Membersihkan komponen yang rusak
Pelumasan, melumasi komponen yang dibukak dan komponen yang telah diperbaiki dengan gomok(khusus komponen yang telak pada kontak roda gigi perlu diganti oli pelumasnya.
Pemasangan, memasang komponen –komponen pengganti atau yang telah diperbaiki secara berturut mulai dari komponen pengganti sampai pada komponen yang dibuka sebelumnya.
Uji stndar
Menguji kedudukan dan gerakan komponen yang dipasang serta menyetel posisi kedudukan dan keluesan geraknya.
Oleh karena itu dalam perawatan korektf terjadi tindakan dan peruses mamabuka, memeperbaki dan memasang komponen mesin yang dalam keadaan baik maka harus dilakukan pekerjaan tersrbut secara hatu-hati,cerma,aman dan baik.
Tindakan perbaikan yang dilkukan tidak boleh memperparah/memperbesar kerusakan. Pekerjaan yang ceroboh dan tidak menguasai tentang mesin dalam melkukan perbaikan pembuatan dan penggantian akan menghasilkan pekerjaan sia-sia dan merugikanperusahaan. Oleh karena itu kuasailah teknik pemesinan,fabrikasi,pengerjaan plat,gambar,elemen mesin dan material/bahan.
Ada beberapa fungsi perawatan antara lain:
Menjegah terjadinya suatu yang dapat membahayakan keselamatan pekerja, fasilitas dan peralatan labor dan workshop.
Meningkatkan kualitas kerja dan hasil kerja yang melibatkan penggunaan easilitas/perlatan labor dan workshop
Memeperlanjar pengerjaan dilabor dan workshop
a. Memanfaatkan sifat bratangung jawab bagi setop pemakai/penggunaan fasilatas/peralatan labor dan workshop, melakukan tindakan perbaikan dengan kesadaran sendiri.
Menghemat biaya opersi fasilitas/perlatan labor dan workshop.

Kamis, 14 Januari 2010

Mencoba


Maaf blog ini jarang di update, maklumlah.. yang punya agi punya hajat besar. Hajat yang akan nentuin kelak masa depan dan bagaimana kehidupannya kelak...



PT.ASTRA HONDA MOTOR...

Kuliah Praktek Uda di depan mata nech

Kuliah Praktek atau yang ngetrend disebut KP bentar lagi uda menghampiriku... Wadoouuhh, nggak terasa hampir 6 semester sudah aku mengabdikan jiwa dan ragaku untuk ITS tercinta _lebay mode : On_..hehehe.
Buat temen2 yang masih bingung How To bikin proposal KP, nech aku share baceman buat loe loe semua. Eiits, tapi nggak just Copas gitu ae. Ini just garis besarnya ajjah, so untuk isini.. mikir sendiri dunk Cak..hahaha

Prosedur Pelaksanaan
Prosedur pelaksanaan kerja praktek sebagai berikut :
1. Mahasiswa menentukan/mencari atau disalurkan oleh program ke tempat KP
2. Mahasiswa melakukan observasi ke tempat akan melakukan kerja praktek  setelah itu baru membuat proposal
3. dosen pembimbing akan ditentukan oleh jurusan berdasarkan kompetensi dan penjurusan mahasiswa tersebut
4. FASILKOM menerbitkan SK dosen pembimbing
5. Mahasiswa membuat proposal dan mengkonsultasikannya dengan Dosen Pembimbing
6. Mahasiswa meminta Surat Pengantar ijin KP kepada Dekan/ PD I melalui Bagian Akademik apabila proposal telah disetujui oleh ketua jurusan, dengan melengkapi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Salinan daftar kumpulan nilai (DKN)
b. Salinan bukti pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dan Dana Praktikum Laboratorium (DPL) semester berjalan atau Photocopy Kartu Studi Mahasiswa (KSM)
c. Proposal Kerja Praktek yang telah disetujui oleh Dosen Pembimbing
d. Mengisi Form Permohonan Kerja Praktek (Contoh pada lampiran)
7. Mahasiswa menyampaikan Surat Pengantar ke tempat KP paling lambat 2 minggu sebelum pelaksanaan
8. mahasiswa membawa serta surat tanda terima dari tempat KP yang menyatakan bahwa surat pengantar telah diterima dan diserahkan kepada jurusan melalui bagian akademik.
9. Jika mahasiswa tidak mendapatkan ijin dari tempat Kerja Praktek, maka mahasiswa harus melakukan perbaikan Proposal untuk mengajukan surat pengantar yang baru dengan menyertakan surat penolakan dari tempat pengajuan sebelumnya.
10. Mahasiswa melaksanakan kerja Praktek, mengisi Form Aktivitas harian dan memberikan Form Penilaian kepada Pembimbing Lapangan. Selama Kerja Praktek hal yang harus dilakukan antara lain :
a. Orientasi tempat Kerja Praktek.
b. Mengisi kegiatan harian selama Kerja Praktek dalam form aktivitas harian
c. Melihat, mempelajari dan mencatat struktur organisasi tempat Kerja Praktek serta tugas dan kewajiban masing-masing bagian.
d. Melakukan analisis terhadap kebutuhan perangkat lunak yang ada  untuk membuat spesifikasi kebutuhan perangkat lunak.
e. Senantiasa berkonsultasi dengan pembimbing lapangan terhadap aktivitas yang akan dilakukan maupun yang telah dilakukan.
f. Melihat, mempelajari atau membantu kerja berkaitan dengan rencana mahasiswa KP.
g. Mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk laporan KP
11. Jika mahasiswa selesai melaksanakan kerja Praktek, mahasiswa membuat laporan Kerja Praktek. Pembuatan Laporan berkonsultasi dengan pembimbing dan Pembimbing Lapangan
12. Mahasiswa berkonsultasi dengan pembimbing lapangan terlebih dahulu, baru kemudian dengan dosen pembimbing.
13. Laporan disetujui dan kemudian dilaksanakan ujian oleh pembimbing dan/atau Penguji
14. Penilaian Kerja Praktek komponennya terdiri dari
a. 35% Dosen Pembimbing
b. 25% Pembimbing Lapangan
c. 40% ujian KP
15. Masing-masing Mahasiswa mencetak Laporan Kerja Praktek sebanyak 3 (tiga) eksemplar dengan rincian 1 (satu) untuk pembimbing (jika diminta), 1 (satu) untuk tempat Kerja Praktek (jika diminta), 1 (satu) untuk Perpustakaan.
16. Laporan Kerja Praktek harus telah diterima pelaksana akademik fakultas paling lambat 1 (satu) bulan terhitung sejak selesai melaksanakan Kerja Praktek  dibuktikan dengan bukti penerimaan laporan.
17. Dikenakan sanksi apabila administrasi KP tidak terpenuhi

Tata Tertib
Mahasiswa yang mengikuti Kerja Praktek harus mematuhi dan mentaati tata tertib baik tata tertib yang dibuat di Fakultas Ilmu Komputer maupun tata tertib di tempat kerja praktek, antara lain :
1. Mahasiswa harus berpakaian bersih dan rapi, memakai kemeja, tidak berpakaian ketat dan harus memakai sepatu tertutup.
2. Mahasiswa menjaga nama baik almamater Universitas Sriwijaya
3. Mahasiswa memakai tanda pengenal Kerja Praktek (Jika ada).
4. Mahasiswa harus hadir sesuai dengan jadual jam kerja tempat Kerja Praktek.
5. Mahasiswa dilarang merokok, meminum minuman keras, membawa senjata tajam, senjata api dan narkoba di lingkungan tempat Kerja Praktek.
6. Mahasiswa harus menjaga kebersihan, keindahan dan kerapian
7. Mahasiswa harus menjaga etika, sopan santun, ketenangan, ketertiban dan ketentraman tempat KP.
8. Mahasiswa harus mematuhi tata tertib tempat KP.
9. Pelanggaran terhadap tata tertib dan tata tertib tempat kerja Praktek akan dikenakan sanksi.
10. Hal-hal lain dapat menyesuaikan dengan kondisi di tempat KP.













Sistematika Proposal
Sistematika penulisan Proposal Kerja Praktek (KP) terdiri dari :
HALAMAN JUDUL (Contoh Lampiran 1)
HALAMAN PENGESAHAN (Contoh Lampiran 2)
DAFTAR ISI (Contoh Lampiran 3)
1. Latar Belakang
Latar belakang berisi mengapa diperlukan kerja praktek, dimana kerja praktek akan dilakukan dan mengapa tempat tersebut yang dipilih, kemudian dibagian apa kerja praktek akan dilakukan dan mengapa harus dibagian tersebut.
2. Profile Perusahaan
Uraikan dengan jelas di perusahaan/lembaga mana kerja praktek akan dilaksanakan disertai alamat yang lengkap, gambaran umum tentang perusahaan tempat kerja praktek, sasaran organisasi dan mekanisme kerja diperusahaan termasuk dibagian mana KP akan dilaksanakan.
3. Tujuan
Uraikan tujuan yang akan dicapai dari kerja praktek yang dilaksanakan.
4. Manfaat
Uraikan manfaat apa yang diharapkan dari adanya kerja praktek
5. Peserta
Jelaskan secara rinci identitas peserta KP serta kemampuan yang dimiliki yang akan ditawarkan ke tempat kerja praktek
6. Jadwal Kegiatan serta alokasi waktunya per hari.
Uraikan dengan jelas dan rinci tahap-tahap kegiatan yang akan dilakukan ditempat kerja praktek
7. DAFTAR PUSTAKA
Tuliskan Daftar Pustaka yang digunakan, jika ada

Proposal Kerja Praktek yang telah disetujui pembimbing dijilid dengan menggunakan kertas kambing bagian belakang dan plastik transparan warna putih di bagian depan.

LAMPIRAN
Lampiran 1. Contoh Halaman Judul Proposal KP

PROPOSAL KERJA PRAKTEK

PEMELIHARAAN JARINGAN KOMPUTER PADA
PT. ABC PALEMBANG
(jika sudah ada judulnya)










Oleh


Rena Andriana 08012311001






JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS ILMU KOMPUTER
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
APRIL 2008

Lampiran 2. Contoh Halaman Pengesahan

HALAMAN PENGESAHAN

PROPOSAL KERJA PRAKTEK (KP)

PEMELIHARAAN JARINGAN KOMPUTER
PADA PT ABC PALEMBANG


Sebagai salah satu syarat untuk melaksanakan
Kerja Praktek


Oleh :

Rena Andriana 08012311001


Menyetujui Palembang, 12 April 2008
Dosen Pembimbing, Peserta,



Alvi Syahrini Utami, M.kom Rena Andriana
NIP 132 318 404 NIM 08012311001


Mengetahui
Ketua Program Studi,



Drs. Megah Mulya, MT
NIP 132 318 571

Lampiran 3. Contoh DAFTAR ISI Proposal

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………………… i
HALAMAN PENGESAHAN ……………………………………………………………….... ii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………. ii
Latar Belakang…………………………………………………………………………………. 1
Profile Perusahaan ………………………………………………………………………….. 2
Tujuan………………………………………………………………………………………...... 3
Manfaat …………………………………………………………………………………........ 4
Peserta (Jika peserta lebih dari satu orang)…………………………............... 5
Jadwal Kegiatan serta alokasi waktunya per hari................................... 6
DAFTAR PUSTAKA