Minggu, 01 Mei 2011

Cerpen Sahabat

Kenapa kau termenung lae, apakah berasmu belum juga dikirim dari kampung atau gara-gara surat dokter itu” kata Herman kepada Togar.
“Aku tidak butuh beras, dan aku tidak tahu surat dokter mana maksudmu”
“Yah,,, sudah, aku juga berpikir tidak ada gunanya mengingat-ingat surat itu, tapi janganlah termenung gitu kau lae, menderita sekali kau nampaknya” kata herman sambil beranjak ke arah jendela.
“Apakah kamu pikir kalau termenung itu adalah karena penderitaan” balas Togar
“Mana ada orang senang termenung seperti muka mu itu lae, ayolah kita sudah bersahabat sejak kecil, ceritalah padaku!” 
“Tak ada pula yang ingin aku ceritakan kepadamu, lagian mengenai persahabatan kita haruslah kamu pikirkan dulu”
“Bah…kenapa lae?, apa salahku?” Herman beranjak dari dekat jendela, menghampiri Togar yang dari tadi terduduk lemas di meja belajar dekat tempat tidur mereka.
“Tidak ada sahabat yang takut meminta tolong kepada sahabatnya, kalau takut itu bukan sahabat. Itu hanya teman, Sama seperti kejadian tadi sore. Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu meminjam buku ‘Aturan Hukum’ dari Sopian, dan kamu tahu kalau aku juga punya buku seperti itu. kenapa kamu meminjam buku dari dia. Apakah itu namanya sahabat?” jawab Togar sambil membelalakan mata kea rah Herman.
“Bah,,, sudah seperti orang bodoh kau ini, ingatlah dulu waktu kau jadi ketua kelas di SD kita. Kita pernah memakai uang khas kelas. Kita bilang kalau kita mau ke sekolah di desa seberang untuk melihat penataan ruangan serta Taman mereka, tapi sebenarnya kita Cuma main-main saja di sana, dapat ijin dari ibu guru, juga dapat uang. Lae..Lae, kau seperti bukan mahasiswa hukum saja”
“Maksud kamu apa?, apa hubunganya dengan meminjam buku dari Sopian?”
“Begini lae, si Sopian itu punya adik cewek, cantik kali dia lae, nah.,,, aku pernah jumpa dia di fakultas sastra, bah…matanya itu seperti  nikotin lae, nikotin yang membuat aku kecanduan”
“Maksud kamu si Rita? hati-hati kamu kalau bicara” Togar berdiri dan berbicara dengan nada yang sangat marah
“Kenapa lae, kau jadi tiba-tiba marah, ada apa dengan Rita?”
“Kamu…kamu….kamu” Togar mencengkram leher Herman…
“Kau kenapa?” balas Herman dengan membalas pandangan serta nada marah sahabatnya tersebut.
“Sudah dari dulu aku memimpikanya, bahkan aku sudah di tolak lima kali, tapi aku belum berhenti memimpikan dia. Sahabat apa seperti kamu?. Kamu hanya bisa merebut mimpi orang lain” Togar melepas cengkramanya, dia kembali terduduk dan menjambak rambutnya sendiri beberapa kali.
“Kau sudah gila, harusnya aku yang bertanya, ‘sahabat apa seperti kau?. Lae tidak pernah bercerita tentang itu kepadaku, padahal selama ini, setiap cewek yang kulihat, yang ku suka, yang ku tembak dan walaupun aku selalu ditolak, selalu kuceritakan kepada kau. Tapi kau?...kau?”
Togar berdiri lagi, dia menendang kursi belajar sampai terbalik menimpa kaki sahabatnya. Herman mengaduh kesakitan, dia berusaha tetap berdiri tapi tongkat yang menjadi penganti kaki kirinya itu telah terjatuh.
“Kamu,,, kamu tidak apa-apa kan Man?” togar membantu Herman untuk bangkit dan mengiring dia ke tempat tidur.
“Walah…lae,, lae,,,setelah kau gagal membunuh aku, kau pura-pura baiklah kepadaku”
“Maksud kamu apa?, oh,,,kamu mau mengungkit-ungkit masa lalu. Kamu baru mau bilang sekarang kalau aku yang telah memotong kakimu. Kalau kecelakaan yang dulu itu semua kesalahanku”
“Aku tidak bermaksud begitu, kau langsung saja marah-marah. Lagian kenyataanya memang begitu, kalau saja aku tidak mengikuti ajakanmu untuk jalan-jalan ke kampung seberang mungkin aku masih punya dua kaki, dan aku pasti bisa meraih mimpiku, aku pasti sudah jadi polisi sekarang” kata herman dengan suara datar
“Oh,,, jadi kamu pikir kalau Cuma kamu saja yang kehilangan impian, asal kamu tahu, kalau bukan karena kamu, sekarang aku sudah sekolah kedokteran di Amerika. Aku harus di sini untuk menjaga kamu, harus satu kos sama kamu, dan kamu merebut semua impian-impianku. Kamu hanya tidak menyadari, kalau kepincanganmu juga ikut memincangkan aku”
“Aku tidak pernah meminta kamu untuk meningalkan beasiswa itu. Aku bisa hidup mandiri tanpa kamu walaupun aku Cuma punya satu kaki, harusnya kamu sadar kalau selama ini justru aku yang banyak membantu kau, memberi kau masukan, memberi semangat. Kau pikir tangisanmu akan ketidakadaan selama ini akan reda tanpa aku”
“Kamu tidak tahu kenapa aku menangis, kamu tidak tahu. Aku benci hukum, aku benci ilmu hukum. Ilmu yang dibanga-bangakan itu, tapi ketidakadilan, ketidakadilan yang bahkan sudah terbiasa keluar dari mulut bayi. Apa kamu pikir itu masih bisa membuat aku bangga” togar mulai bersuara keras lagi.
“Kamu jangan menyalahkan aku atas semua kemalangan kamu, lagian kau harusnya tahu, belajar mengikat sepatu bukan karena orang-orang sudah tahu mengikat sepatu. Kamu harusnya berpikir lebih jernih kenapa kamu harus belajar ilmu hukum bukan menangisinya” Herman kembali merepet
Mereka berdua akhirnya terdiam, Herman menutup kepalanya dengan selimut. Dia berusaha memejamkan matanya, walau pikiranya melayang kemana-mana. Terlintas kembali di ingatanya kejadian empat stengah tahun yang lalu, saat sahabatnya togar mendapat beasiswa belajar kedokteran di Amerika. Mereka berdua neloncat kegirangan, bahkan herman bisa meloncat walau hanya dengan satu kaki. Kemudian pikiranya kembali membawa dia, saat-saat seminggu setelah lulus SMA. Mereka berdua duduk di atas atap rumah Togar.
“Kapan lae berangkat Ke Amerika”
“Ah,,, sepertinya saya tidak jadi berangkat ke sana, terlalu jauh. Apalagi bahasa inggrisku juga tidak bagus-bagus kali”
“Ah,,, masa gara-gara itu saja lae menyerah. Lae harus mengejar mimpi lae, bahkan kalau mimpi itu ada di langit sekalipun. Aku pikir bahasa inggris lae itu bagus, buktinya dari dulu sampai kita tamat, nilai bahasa inggris lae tidak pernah di bawah delapan, di tambah lagi piagam-piagam penghargaan atas pidato lae”
“Kamu mau mengejek atau menyemangati aku, ah sudalah Man. Sepertinya mimpi aku itu suda terbalik. Aku sepertinya sudah lebih tertarik dengan dunia hukum. Bagaimana menurutmu?”
“Seriuslah kau lae?, janganlah pulaknya kau mengikuti jejakku. Carilah impianmu sendiri, jangan mencontek impianku, cukuplah waktu ujian bahasa Indonesia lae mencontek dari ku”
“Ha, ha,,, dan selebihnya kamu yang mencontek unjianku. Ia, aku serius. Aku akan belajar mengenai hukum saja. Lagian kamu saja bisa mengubah cita-citamu. Dulu kamu sangat tertarik dengan dunia sastra bukan?. Nah aku heran kenapa setelah di kelas tiga SMA kamu jadi tertarik dengan dunia hukum? ”
“Ah…semuanya bisa berubah lae. Selama kita berjalan sebagai manusia, selama itu juga banyak hal yang akan berubah” kata Herman
“Termasuk persahabatan kita?”
“Tidak…persahaban kita akan tetap seperti ini. Dua raja yang akan mengapai langit, mengapai langit meski dunia tidak memberi kita sayap yang sempurna” tambah Herman sambil merangkul pundak sahabatnya.
Togar yang dari tadi terduduk di pingir tempat tidur sudah mulai merebahkan tubuhnya. Matanya tetap terbuka menerobos asbes kamar kos mereka, hingga pandanganya tersangkut di langit.
“Ayolah,, banyak bintang di atas, tidak mungkin  hujan turun malam ini,”
“Kau sajalah yang pigi lae, aku malas keluar. Lagian di kampung sebelah mau ngapain?”
“Ah…ayolah,,, kamu naiklah,,,nanti juga kamu bakalan tahu”
“Okelah…tapi tunggu dulu, aku permisi sama ibuku”
Pandangan togar bergeser dari bintang. Dia mencoba mencari sesuatu, dan akhirnya dia menemukanya. Matanya berhenti pada bulan yang sedang penuh.
“Katanya kalau bulan sedang penuh banyak setan berkeluaran” kata togar, sesekali dia melepas stang sepeda motornya dan mengajak sahabatnya bercanda.
“Udah lae, aku tidak takut, kau konsentrasi saja bawa kretanya, hati-hati banyak truk lewat jalan ini malam-malam”
“Kamu jangan terlalu penakut,”
“Awas,,,laeeeee,,,!!!!”
Sepertinya Herman tidak bisa tertidur, dia kembali terduduk. Matanya terbuka kosong.
“Kamu tidur saja. Besok kita ada ujian” kata togar tanpa menoleh, raut mukanya seperti seseorang yang baru menyesali sesuatu.
“Aku tidak bisa tidur, lae saja yang tidur duluan, alhir-akhir ini kamu selalu tertidur dengan posisi telungkap, kenapa?” jawab Herman.
"suka-sukaku lah,,,"
"ditanya baik-baik jawabnya apa, semalaman kau buat aku emosi saja"
“Kamu janganlah marah kepada saya”
“Aku tidak marah padamu lae”
“Aku minta maaf”
“Kau di maafkan lae”
“Aku stress berat hari ini, tadi skripsiku di tolak mentah-mentah sama dosen, padahal minggu kemarin dia sudah merevisinya” kata togar. Togar kembali tertududuk, dia memperhatikan sahabatnya yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
“Udahlah lae, lae tidak usah mencari-cari alasan, tidak mungkin karena hal begitu lae langsung sensi begitu malam ini”
“Hah…kamu sudah mulai lagi memancing-mancing aku”
“Aku tidak memancing-mancing kau lae, lae yang merasa terpancing. Aku tahu lae menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi lae tidak pernah mau cerita, aku tahu sudah lama lae tidak mengangap aku sebagai sahabat”
“Jaga mulut kau itu!, jangan membalik-balikan fakta” togar kembali terlihat marah.
“Lae..Lae, lae selalu emosi kalau bicara, dan anehnya hanya sama aku saja lae berbicara seperti itu”.
“Diam...kau herman, aku pantas marah kepadamu…aku sangat pantas”  kata togar dengan emosi memuncak. Togar bergerak kea rah mejanya dan mengambil selambar kertas dari dalam laci.

‘Aku melihat sebuah buku terindah melambai-lambaikan tanganya,
Tapi aku bergerak ke lain arah.
Aku mencoba meraih sebuah buku bersampul merah,
Buku yang tidak terlalu indah untukku.
Tapi indah buat ayahku,
Terutama abangku.’

“Maksud lae apa?” kata Herman kebinggungan
“Bukankah itu puisimu”
“Terus,,, kalau ini puisiku kenapa?”
“Hah,,,jadi….kamu pikir aku tidak mengerti apa artinya, kamu pikir aku tidak tahu kalau abangmu meninggal dua hari sebelum wisuda Ilmu Hukum, apa kamu pikir aku tidak tahu kalau ayahmu sangat tertarik jika anaknya bisa sekolah hukum” kata togar sambil memukulkan tanganya kea rah selembar kertas yang kini sudah ada di tempat tidur.
“Jadi masalahmu apa dengan ini semua, kalau saya mengambil hukum lantas kenapa?”
“Oh,,,,jadi selama ini kamu menipu dirimu, menipu aku, kamu dengan manisnya berkata kalau kamu tiba-tiba tertarik belajar hukum, dan ternyata, itu semua kau lakukan hanya untuk abangmu yang sudah meninggal itu..ia,,,???”
“Diam…diam…kau togar” kata Herman sambil bergerak kea rah togar, herman berusaha mengepai dan memukul togar yang masih berdiri di samping tempat tidur. Tapi togar menepisnya dan togar kembali mencengkeram leher herman.
“Kamu gila herman,,,, kamu sendiri yang bilang supaya aku mengejar mimpiku sampai ke langit, tapi kamu..Kamu,,, apakah kamu sudah mengejar mimpimu, kamu malah mengejar mimpi orang”
“Kau diam,, kau diam,,,”
“Apa…? Kamu yang diam”
“Apa kamu pikir aku senang melakukan itu semua?, dan apakah hanya aku yang melakukan itu?. bukan kah kamu juga melakukan hal yang sama terhadap aku?, kamu mengorbankan cita-citamu hanya untuk menebus rasa bersalahmu terhadapku,,, kamu juga melakukanya, harusnya kamu mengerti”
“Oh,,,,oh,,,jadi selama ini aku mengikutimu kemana-mana, aku membuang impianku hanya untuk kebohonganmu, hanya untuk abangmu yang sudah mati itu.” kata Togar.
Togar sudah tidak kuasa lagi. Air matanya mulai mengalir, dia berjalan ke arah jendela.  Selera tidurnya sudah benar-benar hilang malam ini, bahkan semenjak tiga hari yang lalu, sejak ia menemukan puisi herman di tempat sampah.
“Aku sudah bilang, aku tidak pernah meminta kau untuk menemani aku”
“Sudah kau diam saja” teriak togar
“Aku tidak bisa diam sebelum ini semua selesai” balas Herman
“Aku sudah tidak perduli lagi”.
Mereka berdua hanya terdiam beberapa menit, malampun sudah ada di pertengahan istirahatnya. Tapi kedua sahabat itu masih menerawang setiap celah yang mungkin bisa dijadikan sebagai awal perbincangan untuk menyelesaikan masalah mereka.
“Hem….hem,….” Herman mencoba berdehem, berharap sahabatnya mengeluarkan sepatah kata.
“Hem…hem…uhuk,,,, uhukkk” setelah berdehem herman kembali batuk-batuk.
“Biasanya kalau saya lagi batuk, sahabat saya pasti akan langsung memarahi saya, dia akan berkata ‘sudah kubilang, jangan terlalu serius dalam hidup ini, udah kuliah pagi, kerja sore sampai malam, sok-sok belajar lagi sampai pagi’. Tapi malam ini, saya berbatuk, tidak ada lagi yang memarahi aku, apakah sahabatku sudah tidak ada lagi” kata Herman dengan gaya berdoa.
“Jangan sok bercanda, kamu sudah sangat memuakkan” balas togar
“Lae,,, tolonglah, jangan selalu marah-marah kepada aku, aku tahu lae kesal, dan apa yang saya tulis di puisi itu memang benar, tapi itu sudah lama saya tulis, mungkin semester pertama dulu. Dan sekarang aku sudah melupakan ilmu sastra, aku sudah benar-benar tertarik dengan dunia hukum”
Togar hanya terdiam.
“yah udalah, aku memang salah, mungkin aku sudah sangat salah. Tapi aku tidak mau jika hanya kesalahanku itu aku akan kehilangan sahabat terbaik aku, aku memang bodoh…sahabatku sudah mengorbankan semuanya untukku, tapi aku malah membuang pengorbananya itu. Aku memang kejam,,, aku kejam” kata herman dengan gaya berdoa lagi.
“Kamu tahu sesuatu tentang aku” tiba-tiba togar bertanya.
“Iya,,,” jawab herman dengan sangat singkat
“Tentang apa?” togar kembali bertanya
“Tentang …tentang surat dokter itu, iya saya membacanya” kata Herman sambil melirik sahabatnya. Air matanya mulai keluar untuk pertama kali semenjak abangnya meninggal 4 tahun yang lalu.
“Kenapa kamu tidak pernah bertanya padaku”
“Bertanya,,untuk apa saya bertanya, toh aku sudah tahu” herman berusaha keras seperti tidak peduli,
“Kalau kamu sakit, aku selalu menasehati kau, tapi kau tidak pernah menasehati aku” kata togar dengan nada sedikit marah
“Karena…karena” Herman tidak menalnjutkan kalimatnya.
“Karena kamu tahu, kalau tidak ada artinya lagi untuk menasehati aku. Karena kamu tahu kalau aku pasti akan mati sebentar lagi” kata togar
“Mungkin itulah alasanya” jawab Herman, matanya semakin berkaca-kaca
“Apa semua orang yang hidup seperti aku akan mati”
“Belum tentu, Hidup dan mati itu Tuhan yang atur”
“Kamu menangis?...ha..ha…kamu sudah seperti banci” ledek togar
“Eh,,,lae,,kamu pikir kalau menangis itu Cuma hak banci saja, lagian kau lebih sering menangis dari pada aku berarti kau lebih banci” balas herman dengan suara tegas
“Kangker tulang belakang, kenapa harus aku, padahal aku rajin olah raga, tidak merokok, aku juga rajin berdoa. Apakah ini hukuman gara-gara aku sudah mematahkan kaki sahabat terbaikku”
“Iya,,, kurasa begitu. Tapi lae tidak usah takut, dan tidak usah menangis lagi setiap malam gara-gara memikirkan itu. aku ingin lae tetap semangat, walau selama ini aku tidak bertanya mengenai hal itu, itu hanya karena aku ingin lae berdamai sendiri dulu dengan hidup lae. Ingat bukan kita yang menentukan hidup mati kita, bukan juga surat dokter tersebut, Tapi tuhan. Makanya jangan pernah berhenti berharap, selagi lae bernapas, lae harus tetap bermimpi”
“Aku belajar ketegaran darimu, mengikutimu kesini bukanlah menjadi pengorbanan buatku. Ketidakjadianku berangkat ke Amerika bukanlah pengorbanan, tapi keberuntungan, karena di sini aku bisa belajar mengenai perjuangan dan ketegaran” kata togar
“Ah…sudah..Sudahlah,,,tidak usah berbicara lagi, sudah jam 2 malam, kita harus tidur”
Untuk sejenak mereka berdua kembali terdiam dan mencoba memejamkan mata. Tapi itu hanya sejenak saja,
“Bagaimana dengan Rita?” kata Herman
“Kamu bilang mau tidur”
“Apa,??? Hati-hati kalau ngomong, nga mungkinlah si Rita ku ajak tidur, pacaran aja belum”
“Yang bilang ajak Rita tidur siapa, tadi kau bilang kalau tidak bisa bicara lagi, karena udah mau tidur”
“Oh….bagaimana dengan Rita”
“Kamu ambil sajalah….mungkin aku tidak akan bisa menjaganya, sekalian kau ambil sesuatu yang kutingalkan di amerika”
“Apakah ada wanita yang mau sama anak berkaki satu sepertiku?”
“walah…mulai lagi, kamu yang bilang kalau kita tidak bisa bermimpi, dan harus mengapai bintang walau tak dianugerahi sayap” jawab Togar
“okelah,,,,aku berjanji,  dan aku akan mengapai mimpi sahabatku juga, semua anak-anakku kelak akan menjadi dokter”.
“sepertinya kamu sudah sangat yakin kalau aku akan segera mati, apa kau punya pesan untuk abangmu?”
“Ha,,,,ha,,,,hanya jika kau bisa dapat uang banyak untuk operasi dan mencari donor yang pas, sepertinya itu tidak mudah. Yah,,,tapi jangan pernah berhenti bermimpi saja. Sampaikan sama abangku, kalau cita-citanya akan segerah tergapai, bilang supaya jangan sering ngebut-ngebutan dia di surge, ntar mati lagi.”
“okelah,,,,”
Mereka berdua kembali terdiam, dengan harapan b esok pagi mereka masih bisa bertengkar lagi. atau paling tidak mereka masih bisa saling menopang, karena hari-hari sudah semakin kejam, sekejam tulang belakang Togar yang selalu menyiksanya akhir-akhir ini.
“Sahabat, bersahabat adalah mimpi terindah, dan semoga mimpi-mimpi yang lain bisa menyusulmu”

0 komentar:

Posting Komentar