Rabu, 27 April 2011

The Wonderfull of Sempu Island





            Pulau Sempu terletak disebelah selatan Kabupaten Malang. Berbatasan langsung dengan Samudera Hindia yang terkenal dengan ombak yang besar dan ganas. Pulau ini tidak berpenghuni. Pemerintah telah menjadikan Pulau Sempu sebagai kawasan cagar alam sejak tahun 1994, bahkan sebenarnya sejak jaman Kolonial Belanda_pun Pulau Sempu telah dijadikan kawasan yang dilindungi ( tepatnya sejak tahun 1934 ).
            Banyak orang membenarkan bahwa pulau ini masih perawan serta belum terjamah tangan manusia. Tempat ini juga merupakan salah satu lokasi penangkaran ular king kobra. Namun lokasi itu agak terpisah jauh dengan obyek wisata yang ada di dalam pulau ini. Terdapat segara anakan dan segara lele yang indah di dalam pulau ini. Segara anakan merupakan ‘ danau ‘ air asin, karena air yang ada disini berasal dari laut yang berada disebelah luar dari Pulau Sempu. Sedangkan segara lele merupakan danau air tawar, namun lokasi keduanya cukup berjauhan bila ditempuh dengan berjalan kaki. Ombak dari laut selatan masuk ke dalam pulau melalui lubang besar yang ada di karang.
Lubang itu menyuplai air kedalam segara anakan, sehingga airnya terasa asin. Koral yang terdapat disekeliling pulau merupakan tameng alam pulau ini dari dentuman gelombang pantai selatan (Samudera Hindia). Masuknya ombak melalui lubang itu merupakan pemandangan yang sangat indah. Akan tetapi air yang baru masuk itu sangatlah asin. Banyak wisatawan yang berenang disini. Selain airnya yang dingin, segara anakan ini juga dangkal dan airnya jernih sekali. Disini juga terdapat bermacam-macam jenis koral dan ikan. Maklum saja, kawasan ini pernah dijadikan tempat penelitian ikan dan koral beberapa tahun yang lalu. Jadi bila beruntung, kita bisa melihat pemandangan
bawah laut yang sesungguhnya disini. Bahkan saya sempat melihat ikan kerapu, ikan kerapu ini merupakan ikan dasar laut yang tidak bisa sembarangan dilihat. Jadi bila ingin melihat ikan ini mesti memakai peralatan menyelam yang lengkap dan mahal, akan tetapi di segara anakan ini, saya nggak memerlukan apapun untuk bisa melihatnya.
            Di sekeliling segara anakan terdapat pantai pasir putih yang masih perawan juga. Cocok buat mendirikan tenda dan bersantai bersama teman dan keluarga. Pasirnya yang lembut sangat sesuai untuk bermain volley atau sekedar berjemur. Yang mesti diingat bila akan bermalam disini adalah udara yang cukup dingin serta banyak semut yang siap ‘memangsa‘ anda hidup-hidup ^_^. Jadi jangan lupa membawa ‘parfum’ pengusir semut jika datang kesini.
            Pada waktu liburan biasanya banyak yang bermalam disini. Baik dari Mapala, mahasiswa maupun keluarga. Bahkan pada saat saya disini juga ada beberapa turis asing yang bermalam disini.   Suasana yang masih alami menjadi daya pikat tersendiri untuk bermalam disini. Seperti memiliki suatu taste special gitu. Apalagi lokasi yang bagus untuk mendirikan tenda juga sangat strategis. Terlindung oleh pepohonan dan tebing yang membatasi langsung pulau ini dengan laut selatan.
            Jangan lupa juga untuk membawa perlengkapan lain seperti  jaket tebal, lampu senter, pisau lipat dan tali. Juga perbekalan yang meliputi makanan lengkap dengan alat memasaknya. Yang paling penting, segara anakan ini nggak menyediakan air tawar, jadi kita harus membawa sendiri air tawar dari Pulau Jawa. Sebenarnya ada juga air tawar,yaitu di segara lele. Namun lokasi ini jauh dan masih belum boleh disambangi. Minimal untuk bermalam satu malam, tiap orang memerlukan 2-3 L air minum. Itu belum air tawar yang akan digunakan untuk memasak. Jadi bila pengen asik dan safe, bawa aja gallon yang penuh. Perjalanan dari pantai menuju lokasi menyuguhkan pemandangan yang teramat indah. Seperti di hutan-hutan pedalaman amazon yang terkenal itu. Mirip banget dah pokoknya seperti yang pernah saya lihat di film Anaconda dan Rambo itu..hheee
                                             Teluk Semut

Sepajang jalan setapak menuju segara anakan, penuh dengan belukar dan pohon-pohon besar khas hutan tropis yang angker. Namun jangan salah, di area ini menyuguhkan banyak sekali Oksigen yang bisa untuk merefresh paru-paru kita yang telah lama terkontaminasi oleh asap di kota. Perjalanan dari pantai (teluk semut) menuju lokasi perkemahan (segara anakan) membutuhkan waktu kurang lebih sejam. Cukup menguras tenagalah, jadi mesti punya fisik yang bagus juga bila ingin kesini.
                          
            Setibanya di tengah pulau,kita akan disuguhi pemandangan alam yang eksotis. Bagaimana tidak, segara anakan ini dibentengi oleh karang tajam nan keras dengan pahatan yang sangat indah. Dibalik koral-koral itu terhampar luas samudera Indonesia yang mempesona dan menimbulkan kesan magis yang luar biasa. Suara deburan dan dentuman ombaknya yang beradu dengan karang membuat siapa saja yang mendengarnya merasa miris. Ada satu lokasi yang cukup strategis yang bisa kita gunakan untuk melihat langsung betapa dahsyatnya ombak pantai selatan. Yaitu diatas ‘bumi perkemahan’ segara anakan. Kita hanya butuh mendaki karang yang agak tajam guna mencapai puncaknya dan mendapati pemandangan yang begitu mempesona. Tebing itu tidak terlalu tinggi kok, sekitaran 10m dan landai. Jadi mudah untuk di daki. Tapi kita mesti extra hati-hati dalam mendaki. Batu di tebing karang ini sangatlah tajam dan siap merobek kulit mulus anda ^^. Jangan lupa membawa kamera dan sandal sebelum naik keatas tebing ini. Bawa rokok juga cukup bermanfaat, karena merokok diatas akan terasa sangat nikmat,terasa bagaikan pria sejatinya gudang garam internasional…….hhee. Dentuman gelombang yang memecah karang langsung berubah menjadi uap air karena tiupan angin yang lumayan berkecepatan tinggi. Sungguh, kita akan merasa kecil dihadapan dunia yang maha luas ini. Apalagi dibandingkan dengan angkasa raya yang tiada satu orang_pun tau dimana batasnya. Kita hanyalah bagaikan sebutir pasir di Gurun Sahara yang tidak berarti.
          
Para mapala sedang mendaki tebing di sempu
              Perjalanan menuju sempu memakan waktu kurang lebih 2 jam dari kota Malang. Itu bila kita menggunakan sepeda motor. Akan lain lagi ceritanya jika kita menggunakan aramada lain,seperti mobil atau kendaraan umum. Jika dari Surabaya,kita bisa naik bus antar kota dan turun di terminal Arjosari Malang. Dari terminal Arjosari kita harus naik angkota/bemo menuju terminal Gadang. Setelah itu dilanjutkan dengan naik angkota lagi menuju Turen. Kita juga bisa langsung menyewa mobil dari terminal Gadang langsung menuju pantai sendang biru. Opsi ini bisa menjadi pilihan karena akan menghemat tenaga kita. Namun jika naik kendaraan umum, dari Terminal Gadang menuju Turen lalu dilanjut ke pantai Sendang biru.
Pantai Sendang Biru
            Jika perjalanan dari kawasan selatan Jawa (Trenggalek,Tulungagung,Kediri etc) kita bisa naik bus lalu turun di terminal Gadang. Setelah itu perjalanan selanjutnya sama seperti ketika kita dari arah Surabaya.
            Pemandangan disepanjang jalan menuju Pantai Sendang Biru ini juga sangat memukau. Jalan yang berkelok-kelok serasa menjadikan kita sedang di puncak. Namun jika di puncak pemandangan sekitar berupa perkebuan teh atau kol,disini kita akan disuguhi hutan jati dan areal persawahan. Jalan Aspal mulus dan cukup bagus,hingga mencapai Sendang Biru. Jika touring naik motor, janganlah terlalu kencang mengendarainya, karena bayak jurang curam disepanjang jalan. Luas jalan juga bisa dikatakan sempit.
            Sesampainya di Pantai Sendang Biru, kita harus membayar tiket masuk ( waktu itu tiketnya Rp.4500 per motor ). Pengen hemat? Perkirakan sampai disini waktu subuh,jadi nggak perlu bayar..hehehe.. Setelah itu segeralah cari tempat penitipan sepeda motor atau mobil di perumahan nelayan yang tidak begitu jauh dari lokasi. Untuk motor semalamnya dihargai Rp 5000 – Rp 10.000. Itu sudah termasuk biaya penitipan helm. Jadi nggak perlu takut helm kalian yang berharga ratusan ribu itu hilang atau lecet,disini tempatnya sangat aman.
            Urusan aramada uda selesai sampai disini. Kita hanya butuh ijin dan menyeberang saja. Sebelum menyeberang ke Pulau Sempu, jangan lupa untuk ijin dahulu dengan Bapak petugas dari Dinas Pariwisata dan Kehutanan. Tenang saja, disini kita akan di kasih tahu lay-out Pulau Sempu yang meliputi tempat-tempat mana saja yang ‘terlarang’ dan ‘halal’ untuk dikunjungi. Termasuk juga peta jalan setapaknya. Kemarin kami gratis pas ijin ini, tetapi dengar-dengar ada juga yang harus bayar. Ketimbang malu, mending siapin aja duit beberapa ribu atau rokok satu pack untuk Pak petugasnya.
            Sekarang kita tinggal persiapan menyeberang. Ada banyak kapal motor milik nelayan yang siap mengantar kita menuju Sempu. Biayanya sebesar Rp 100.000, itu sudah termasuk antar dan jemput. Jangan lupa untuk menghafal nomor urut perahu serta mencatat nomor hape sang nahkoda. Bila hal kecil ini terlupa bisa jadi bencana, karena kita nggak akan bisa pulang ke rumah. Penyeberangan memakan waktu sekitar 15-20 menit saja. Dan sepanjang perjalanan pemandangan sangatlah indah               
            Air laut yang dingin berdeburan menemani sepanjang perjalanan. Juga pemandangan kapal-kapal nelayan penangkap ikan yang sedang ‘parkir’ di sepanjang Pantai Sendang Biru. Air disini sangat jernih, hingga kita bisa melihat dasar laut selat yang memisahkan Pulau Sempu dengan Pulau Jawa ini. Walaupun dasar lautnya tidak se-indah taman laut Bunaken
di Sulawesi, akan tetapi cukuplah memberikan pemandangan yang sangat menawan. Dari atas perahu kita bisa melihat terumbu karang dan tumbuhan-tumbuhan laut menari-nari dipermainkan oleh ombak. Sekian secuil kisah perjalanan kami ke Pulau Sempu, Pulau yang sangat indah dan alami. Silahkan menikmati dan mensyukuri segala keindahan alam yang alami ciptaan Tuhan disini. Have a nice Trip buat anda.                                 



To be continue…

2 komentar:

  1. blogx ditrbtkan aj kyak novelx raditya dika....

    BalasHapus
  2. Belum saatnya Gan.. Masih belm fokus menulis ini..hehe

    BalasHapus