Selasa, 07 Februari 2012

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PLASTIK



MAKALAH MAHASISWA

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PLASTIK YANG KINI KIAN MEYELAPUTI DUNIA SERTA MENIMBULKAN MASALAH LINGKUNGAN YANG KOMPLEK

Disusun dalam rangka tugas Mata Kuliah Penyambungan Non Logam



 









Oleh
Victor Rizal Filosofi
NRP. 6707 0400 03


PROGRAM STUDY D4 TEKNIK PENGELASAN
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2010



PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang
Memasuki era millenium yang kian canggih dan modern ini, plastik sebagai bahan/material baru yang cukup fenomenal semakin ‘menyelaputi’ bumi. Penggunaannya tidak hanya sebatas untuk alat-alat sederhana, melainkan juga untuk alat-alat yang lumayan kompleks. Bahkan dewasa ini penggunaan plastik untuk dunia industri sudah bukanlah hal yang asing lagi.
Lebih daripada itu, plastik pada mulanya  hanyalah bahan yang dipandang sebelah mata. Tidak ada yang menduga jika plastik dan molekul serta isomer-isomer lainya akan berpeluang besar menggeser baja sebagai bahan yang paling dominan dimuka bumi untuk saat ini.
Keistemewaa plastik adalah karena sifatnya yang ringan, tidak mudah pecah dan murah. Namun dibalik itu semua, plastik bisa menimbulkan masalah lingkungan yang komplek. Dampak untuk mahluk hidup juga sangatlah berbahaya. Menurut I Made Arcana –dosen Intitut Teknolgi Bandung- zat pewarna hitam yang ummnya ada di kantong plastik umumnya sangat berbahaya. Zat ini jika terkena panas akan tergradasi dan bisa memicu munculnya kanker.
Dengan mempertimbangkan hal-hal diatas serta perlunya pengetahuan lebih dalam tentang plastic, maka penulis memilih judul “ Sejarah dan perkembangan plastic yang kian menyelaputi dunia “ untuk judul makalah-nya.
1.2  Permasalahan

Permasalahan yang diangkat dalam makalah ini adalah :
1.      Bagaimana sejarah dan awal mula plastik ditemukan ?
2.      Apa saja bentuk lain dari perkembang plastik ?
3.      Bagaimana masalah lingkungan yang ditimbulkan oleh plastik ?
1.3  Tujuan

Tujuan dalam penulisan karya tulis ini adalah :
1.      Untuk mengetahui sejarah awal mula plastik ditemukan
2.      Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis plastik
3.      Untuk mengetahui masalah-masalah lingkungan yang ditimbulkan oleh plastik
1.4  Manfaat

Makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan informasi tentang plastik beserta bentuk lain dari plastik . Selain itu makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai wacana dalam menghadapi bahaya lingkungan yang bisa diakibatkan karena penggunaan plastik yang berlebihan












PEMBAHASAN
1.     Sejarah Plastik
Sejak tahun 1950-an plastik menjadi bagian penting dalam hidup manusia. Plastik digunakan sebagai bahan baku kemasan, tekstil, bagian-bagian mobil dan alat-alat elektronik. Dalam dunia kedokteran, plastik bahkan digunakan untuk mengganti bagian-bagian tubuh manusia yang sudah tidak berfungsi lagi. Pada tahun 1976 plastik dikatakan sebagai materi yang paling banyak digunakan dan dipilih sebagai salah satu dari 100 berita kejadian pada abad ini.
Plastik pertama kali diperkenalkan oleh Alexander Parkes pada tahun 1862 di sebuah ekshibisi internasional di London, Inggris. Plastik temuan Parkes disebut parkesine ini dibuat dari bahan organik dari selulosa. Parkes mengatakan bahwa temuannya ini mempunyai karakteristik mirip karet, namun dengan harga yang lebih murah. Ia juga menemukan bahwa parkesine ini bisa dibuat transparan dan mampu dibuat dalam berbagai bentuk. Sayangnya, temuannya ini tidak bisa dimasyarakatkan karena mahalnya bahan baku yang digunakan.
Pada akhir abad ke-19 ketika kebutuhan akan bola biliar meningkat, banyak gajah dibunuh untuk diambil gadingnya sebagai bahan baku bola biliar. Pada tahun 1866, seorang Amerika bernama John Wesley Hyatt, menemukan bahwa seluloid bisa dibentuk menjadi bahan yang keras. Ia lalu membuat bola biliar dari bahan ini untuk menggantikan gading gajah. Tetapi, karena bahannya terlalu rapuh, bola biliar ini menjadi pecah ketika saling berbenturan.
Bahan sintetis pertama buatan manusia ditemukan pada tahun 1907 ketika seorang ahli kimia dari New York bernama Leo Baekeland mengembangkan resin cair yang ia beri nama bakelite. Material baru ini tidak terbakar, tidak meleleh dan tidak mencair di dalam larutan asam cuka. Dengan demikian, sekali bahan ini terbentuk, tidak akan bisa berubah. Bakelite ini bisa ditambahkan ke berbagai material lainnya seperti kayu lunak.
Tidak lama kemudian berbagai macam barang dibuat dari bakelite, termasuk senjata dan mesin-mesin ringan untuk keperluan perang. Bakelite juga digunakan untuk keperluan rumah tangga, misalnya sebagai bahan untuk membuat isolasi listrik.
Rayon, suatu modifikasi lain dari selulosa, pertama kali dikembangkan oleh Louis Marie Hilaire Bernigaut pada tahun 1891 di Paris. Ketika itu ia mencari suatu cara untuk membuat sutera buatan manusia dengan cara mengamati ulat sutera. Namun, ada masalah dengan rayon temuannya ini yaitu sangat mudah terbakar. Belakangan masalah ini bisa diatasi oleh Charles Topham.
Tahun 1920 ditandai dengan demam plastik. Wallace Hume Carothers, ahli kimia lulusan Universitas Harvard yang mengepalai DuPont Lab, mengembangkan nylon yang pada waktu itu disebut Fiber 66. Fiber ini menggantikan bulu binatang untuk membuat sikat gigi dan stoking sutera. Pada tahun 1940-an nylon, acrylic, polyethylene, dan polimer lainnya menggantikan bahan-bahan alami yang waktu itu semakin berkurang.
Inovasi penting lainnya dalam plastik yaitu penemuan polyvinyl chloride (PVC) atau vinyl. Ketika mencoba untuk melekatkan karet dan metal, Waldo Semon, seorang ahli kimia di perusahaan ban B.F. Goodrich menemukan PVC. Semon juga menemukan bahwa PVC ini adalah suatu bahan yang murah, tahan lama, tahan api dan mudah dibentuk.
Pada tahun 1933, Ralph Wiley, seorang pekerja lab di perusahaan kimia Dow, secara tidak sengaja menemukan plastik jenis lain yaitu polyvinylidene chloride atau populer dengan sebutan saran. Saran pertama kali digunakan untuk peralatan militer, namun belakangan diketahui bahwa bahan ini cocok digunakan sebagai pembungkus makanan. Saran dapat melekat di hampir setiap perabotan seperti mangkok, piring, panci, dan bahkan di lapisan saran sendiri. Tidak heran jika saran digunakan untuk menyimpan makanan agar kesegaran makanan tersebut terjaga.
Pada tahun yang sama, dua orang ahli kimia organik bernama E.W. Fawcett dan R.O. Gibson yang bekerja di Imperial Chemical Industries Research Laboratory menemukan polyethylene. Temuan mereka ini mempunyai dampak yang amat besar bagi dunia. Karena bahan ini ringan serta tipis, pada masa Perang Dunia II bahan ini digunakan sebagai pelapis untuk kabel bawah air dan sebagai isolasi untuk radar.
Pada tahun 1940 penggunaan polyethylene sebagai bahan isolasi mampu mengurangi berat radar sebesar 600 pounds atau sekitar 270 kg. Setelah perang berakhir, plastik ini menjadi semakin populer. Saat ini polyethylene digunakan untuk membuat botol minuman, jerigen, tas belanja atau tas kresek, dan kontainer untuk menyimpan makanan.
Kemudian pada tahun 1938 seorang ahli kimia bernama Roy Plunkett menemukan teflon. Sekarang teflon banyak digunakan untuk melapisi peralatan memasak sebagai bahan antilengket.
Selanjutnya, seorang insinyur Swiss bernama George de Maestral sangat terkesan dengan suatu jenis tumbuhan yang menggunakan ribuan kait kecil untuk menempelkan dirinya. Lalu pada tahun 1957 de Maestral meniru tumbuhan tersebut untuk membuat Velcro atau perekat dari bahan nylon.
2.     Jenis Plastik
Plastik dapat digolongkan berdasarkan:
  • Sifat fisikanya
    • Termoplastik. Merupakan jenis plastik yang bisa didaur-ulang/dicetak lagi dengan proses pemanasan ulang. Contoh: polietilen (PE), polistiren (PS), ABS, polikarbonat (PC)
    • Termoset. Merupakan jenis plastik yang tidak bisa didaur-ulang/dicetak lagi. Pemanasan ulang akan menyebabkan kerusakan molekul-molekulnya. Contoh: resin epoksi, bakelit, resin melamin, urea-formaldehida
  • Kinerja dan penggunaanya
    • Plastik komoditas
      • sifat mekanik tidak terlalu bagus
      • tidak tahan panas
      • Contohnya: PE, PS, ABS, PMMA, SAN
      • Aplikasi: barang-barang elektronik, pembungkus makanan, botol minuman
    • Plastik teknik
      • Tahan panas, temperatur operasi di atas 100 °C
      • Sifat mekanik bagus
      • Contohnya: PA, POM, PC, PBT
      • Aplikasi: komponen otomotif dan elektronik
    • Plastik teknik khusus
      • Temperatur operasi di atas 150 °C
      • Sifat mekanik sangat bagus (kekuatan tarik di atas 500 Kgf/cm²)
      • Contohnya: PSF, PES, PAI, PAR
      • Aplikasi: komponen pesawat
  • Berdasarkan jumlah rantai karbonnya
    • 1 ~ 4 Gas (LPG, LNG)
    • 5 ~ 11 Cair (bensin)
    • 9 ~ 16 Cairan dengan viskositas rendah
    • 16 ~ 25 Cairan dengan viskositas tinggi (oli, gemuk)
    • 25 ~ 30 Padat (parafin, lilin)
    • 1000 ~ 3000 Plastik (polistiren, polietilen, dll)
  • Berdasarkan sumbernya
    • Polimer alami : kayu, kulit binatang, kapas, karet alam, rambut
    • Polimer sintetis:
      • Tidak terdapat secara alami: nylon, poliester, polipropilen, polistiren
      • Terdapat di alam tetapi dibuat oleh proses buatan: karet sintetis
      • Polimer alami yang dimodifikasi: seluloid, cellophane (bahan dasarnya dari selulosa tetapi telah mengalami modifikasi secara radikal sehingga kehilangan sifat-sifat kimia dan fisika asalnya)

3.     Masalah-Masalah yang Timbul karena Plastik

Kita tentu tak asing dengan berbagai kemasan berbalut plastik. Hampir semua barang-barang yang ada di sekeliling kita tak lepas dari bahan bernama plastik ini. Mulai dari mainan anak, alat-alat rumah tangga, alat kantor, sampai benda-benda elektronik berbungkus plastik.
Salah satu alasan pemakaian plastik tentu tak lepas dari berbagai kelebihannya. Meski ringan, plastik tak berkarat, mudah dibentuk, dan tidak gampang pecah. Semua ini membuat plastik lebih praktis ketimbang bahan tradisional yang membutuhkan perawatan khusus.
Tak hanya itu, plastik juga relatif murah dan terkenal gaul dengan bahan lain. Artinya, bahan ini mudah bercampur dengan aneka bahan pewarna. Sudah begitu. Alhasil, banyak orang terpikat pada plastik dengan keanekaan bentuk dan warnanya.
Dengan berbagai kelebihan itu, tak heran jika plastik kini menjadi pilihan utama untuk membungkus aneka produk.
Sejarah plastik sangat panjang. Yang jelas, pemakaian bahan ini makin tak terbendung setelah Perang Dunia II. Bahkan, selama dua dasawarsa terakhir ini, pasar plastik mampu menyaingi pasar pangan di dunia. Maklum, makanan membutuhkan kemasan atau bungkus yang kini sebagian besar dari plastik.

Direktur Eksekutif Federasi Pengemasan Indonesia Hengky Wibowo mengungkapkan, besarnya pengunaan plastik tak lepas dari kebutuhan warga dunia yang ingin serba praktis. "Plastik jelas lebih praktis dan bahan lama dibandingkan tempat makanan tradisional seperti daun," tandas Hengky.
Namun, di balik kepraktisan itu ada bahaya mengintip di balik pemakaian plastik. Setidaknya, ada dua bahaya plastik. Pertama, plastik akan menjadi sampah yang sulit terurai. "Plastik yang adalah produk non-biodegrable sulit untuk diuraikan," pasar Ahli Teknologi Pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Hartoyo.
Asal tahu saja, limbah plastik baru bisa terurai setelah 1.000 tahun. Bandingkan dengan limbah kertas yang membutuhkan waktu sebulan untuk terurai. Kedua, plastik mengandung bahan kimia yang berbahaya, yakni Bisphenol A alias BPA. Bahan kimia ini bisa merangsang pertumbuhan sel kanker serta memperbesar risiko keguguran pada ibu hamil.
Singkatnya, tak hanya bisa mencemari lingkungan, plastik jelas jugaberpotensi mengancam kesehatan kita. Boleh jadi kedua bahaya ini lah yang membuat banyak negara kini mulai mengurangi penggunaan plastik.
Ambil contoh China. Sejak 1 Juni 2008 lalu, pemerfntah China mewajibkan warganya membungkus barang belanjaan dengan kertas. Kecemasan pemerintah Negeri Tembok Raksasa ini cukup beralasan. Sebab, penelitian di negeri itu menunjukkan bahwa penggunaan kemasan plastik untuk makanan dan minuman dapat mengganggu kekebalan tubuh manusia.
Penyebab gangguan kekebalan tubuh itu adalah kandungan dioksin dan zat beracun pada lapisan penyusun plastik yang rusak alias monomer.
Suhu penyimpanan dan proses pencucian wadah yang tidak tepat dapat menyebabkan perpindahan dan kerusakan monomer serta zat adiktif yang biasa dicampurkan saat pembuatan plastik. Inilah yang bisa merusak kekebalan tubuh. Pada tingkat yang berbahaya, zat beracun pada plastik itu dapat memicu berkembangnya sel kanker.
Itu belum seberapa lantaran produsen plastik umumnya menambahkan zat pewarna dan berbagai zat lain yang berbahaya bagi kesehatan.
Kata Arif, plastik sejatinya tidak tahan panas. Tapi dengan berbagai tambahan seperti zat antilengket, bahan sinar dan panas, plastik menjadi sangat kuat.
Tapi, berbagi goresan dan panas tinggi perlahan bisa membuat bahan-bahan pembuat plastik itu terlepas. "Nah kalau berulang dipakai untuk menyimpan makanan atau minuman, zat yang terlepas ini lama-lama bisa menimbulkan kanker," papar Arif.
Zat beracun atau monomer itu semakin lama akan menumpuk dalam tubuh lantaran proses penyimpanan makanan atau proses memasak yang terlalu lama. Dalam hitungan ahli pangan, monomer plastik akan terurai pada suhu di atas 120 derajat.
Karena itu, Henky mengingatkan pangan sembarangan menggunakan kantong plastik berwarna hitam menyimpan makanan atau minuman panas. Soalnya, kantong plastik hitam umumnya terbuat dari bahan daur ulang dengan campuran tinta sablon. "Ini sangat berpotensi menimbulkan kanker," ujarnya.
Zat penyusun plastik yang perlu dihindari antara lain vinilklorida, akrilonitril, metacrylonitril, vinylidene chlorida, serta styrene. Vinilklorida misalnya, dapat bereaksi negatif bila bercampur dengan guanin dan sitosin dapat merusak DNA. Adapun akrilanitril bereaksi dengan adenin bisa menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan seperti mulut, tenggorokan, dap lambung.
Sementara zat adiktif seperti plasticizer, stabilizer, dan antioksidan dapat menjadi sumber pencemaran organoleptik yang membuat makanan menjadi berubah rasa dap aroma serta bisa menimbulkan keracunan.
Pada suhu kamar, dengan waktu kontak cukup lama, zat adiktif pada plastik juga masuk secara bebas ke makanan. Akibatnya, kanker pun menjadi ancaman dalam kehidupan kita. (Adi Wikanto,Novrida Manurung)
Diperkirakan, 500 juta hingga satu miliar kantong plastik digunakan di dunia tiap tahunnya. Jika sampah-sampah ini dibentangkan, dapat membungkus permukaan bumi setidaknya hingga 10 kali lipat! Di Bandung sendiri, volume sampah plastik per harinya mencapai 700 meter kubik. Bisa menutupi 50 lapangan sepakbola sekaligus!
Yang jadi persoalan, dampak negatif sampah plastik ternyata sebesar fungsinya. Di alam, sampah plastik berbahan konvensional dari polimer sintetik tidak mudah terurai oleh organisme. Dibutuhkan waktu 300-500 tahun agar bisa terdekomposisi atau terurai sempurna. Sebuah waktu yang sangat lama. Akibatnya, di banyak tempat, plastik menjadi sumber masalah. Menyumbat saluran air, tanggul, sehingga mengakibatkan banjir bahkan yang terparah merusak turbin waduk.
Dampak negatif kantong plastik atau ”tes kresek” terhadap kesehatan tidak kalah mengerikan. Berdasarkan penelitian I Made Arcana, dosen kimia Institut Teknologi Bandung, zat pewarna hitam yang umumnya ada di kantong plastik berbahaya bagi kesehatan. Zat ini kalau terkenas panas dapat terdegrasi dan mengeluarkan zat yang menjadi salah satu pemicu  kanker. Maka, dianjurkan tidak menaruh gorengan atau makanan panas lainnya langsung di kantong plastik.
Lantas, apa solusinya mengatasi persoalan kantong plastik? Yang pasti, jangan pernah mencoba membakarnya. Jika proses pembakarannya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin. Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, dan memicu depresi.
Seperti diungkapkan angggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPLKTS) Sobirin, pengolahan sampah menjadi solusi terbaik. Jika rumah tangga atau komunitas terkecil di lingkungan belum bisa mengolahnya, didaur ulang, maka pemilahan menjadi langkah kecil terbaik.
”Jika memang belum bisa, apa ya terpaksa gali kembali kearifan lokal macam penggunaan pincuk (daun pisang)?", ucapnya.
Dilarang di China dan Australia
Keprihatinan Sobirin sangatlah beralasan. Menurut dia, di Indonesia, tidak lebih 10 persen warga yang peduli lingkungan. Apalagi, peduli terhadap dampak negatif sampah plastik. Meski demikian, ia optimis, melalui edukasi, sosialisasi, dan kampanye, masyarakat lambat laun akan tergugah. Ini tidak terlepas dari pentingnya peranan pemerintah.
”Wali Kota Bandung misalnya, perlu mendukung lewat kebijakan pelarangan penggunaan kantong plastik di supermarket,” ungkapnya.
Di negara maju, kampanye penggunaan kantung plastik mendapat dukungan dari negara. Salah satunya, China. Mulai Juni 2008 ini, seluruh supermarket dan toko-toko di Cina dilarang memberikan kantung plastik gratis kepada konsumen. Pembeli dianjurkan memakai keranjang sebagai pengganti. Namun, hebatnya, sinergi dengan hal itu, berbagai industri polimer di China gencar mengembangkan plastik biodegradable (dapat terurai).
Banyak jenis polylaktida (plastik berbahan dasar selulosa) dikembangkan. Salah satunya yaitu ”SmartPlast Bag” yang berlogo ramah lingkungan. Plastik berpenampilan layaknya keresek normal berwarna putih ini terbuat dari tajin jagung. Di alam, plastik ini dapat terurai hanya dalam waktu setengah tahun tanpa dampak negatif apa pun. Langkah ini diikuti di Australia.
Lantas, bagaimana dengan Indonesia, khususnya Kota Bandung? Terlalu naïf jika mengharapkan hal yang sama dengan Australia dan China. Namun, sinyalemen positif mulai ditunjukkan sejumlah pelaku usaha di Bandung. Di Carrefour, saat ini disediakan tas belanja khusus pengganti kresek. Harganya Rp 10.000 per kantong. Kalau rusak, bisa ditukarkan dengan yang baru.















PENUTUP
Kesimpulan
Dari uraian dalam makalah ini dapat disimpulkan bahwa,
1.      Plastik memiliki sejarah yang panjang dan senantiasa mengalami perkembagan yang sangat cepat, sejalan dengan berkembangnya ilmu kimia dan sains lainnya
2.      Jenis-jenis plastik sangat beragam dan memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain.
3.      Plastik menimbulkan masalah terhadap kehidupan bagaikan masalah emisi harian. Cukup komplek dan beragam serta menimbulkan masalah yang berbeda pula tiap jenis plastik.
Saran
Plastik pada dasarnya memiliki kelebihan dibandingkan material lain seperti baja dan keramik. Jika dilakukan pengembangan yang terpadu dan berkelanjutan bukan tidak mungkin plastic akan menjadi primadona baru dalam ilmu bahan. Hanya saja, pengembanga yang baik adalah yang tetap memperhatikan maslah lingkungan dan ekosistem.











2 komentar: